Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Protes agresi Israel ke Gaza di Tepi Barat

Written By Unknown on Selasa, 20 November 2012 | 06.17

Sabtu (17/11/2012), protes atas agresi Israel ke Jalur Gaza digelar di berbagai bagian di Tepi Barat. Terjadi bentrokan pada saat demonstrasi dilakukan karena tentara Zionis berusaha menyerang para demonstran.

Sumber-sumber medis melaporkan bahwa beberapa warga Palestina menderita luka-luka, dan beberapa lainnya ditangkap oleh tentara Zionis dalam demonstrasi itu, seperti dilansir IMEMC.

Tentara Zionis Yahudi melancarkan 200 serangan udara di Jalur Gaza pada Sabtu, menargetkan pusat-pusat pelatihan Mujahidin, gedung-gedung pemerintahan termasuk kantor Perdana Menteri Ismail Haniyah, serta rumah-rumah warga Palestina yang menyebabkan korban dalam jumlah besar.

Di Nablus, utara Tepi Barat, tentara Yahudi menyerang puluhan pemuda Palestina yang turut serta dalam protes itu.

Bom gas, peluru karet berlapis loga, dan peluru-peluru tajam ditembakkan ke arah para demonstran, akibatnya lima luka-luka, termasuk seorang di antara mereka yang ditembak di kepalanya. Sementara lima lainnya ditangkap.

Seorang relawan medis Palestina, yang diidentifikasi sebagai Isra' Hdeiba menderita luka di kepalanya ketika ia sedang berusaha menolong para demonstran yang terluka.

Selain itu, para tentara biadab itu juga merusak ambulans milik Bantuan Medis Palestina (Palestinian Medical Relief) yang sedang berjuang mengangkut para korban luka ke rumah sakit. Serangan ini terjadi di penjara Ofer, di distrik Ramallah.

Dr. Mustafa Barghouthi, kepala Bantuan Medis Palestina, menyatakan bahwa tentara Zionis tidak hanya menargetkan warga sipil yang sedang berdemo, tetapi juga menargetkan para tim medis dan peralatannya.

Puluhan warga lainnya juga menderita luka-luka setelah tentara Zionis menyerang para demonstran damai itu di kota Jenin dengan senjata serupa.

Protes serupa juga terjadi pada Jum'at (16/11) malam karena Zionis Yahudi terus meningkatkan serangan-serangannya terhadap penduduk sipil Palestina di Gaza.

Zionis Yahudi melancarkan 300 serangan udara di Jalur Gaza

300 serangan udara menghantam Jalur Gaza dalam satu hari saja, Sabtu (17/11/2012), militer Israel mengkonfirmasi, dikutip The Sate.

Serangan udara yang dilancarkan pasukan Zionis Yahudi itu telah meluluhlantahkan puluhan bangunan di Gaza dan memakan korban jiwa serta melukai sejumlah besar warga Palesitina.

Israel melakukan setidaknya 300 serangan udara pada Sabtu, kata militer Israel, dan memperluas jangkauan targetnya.

Salah satu target yang dihantam rudal Zionis adalah gedung milik Perdana Menteri Gaza Ismail Haniyah, menyebabkan seluruh bangunan hancur. Namun Haniyah sedang tidak ada di tempat pada saat itu.

Militer Israel mengklaim bahwa kemarin 160 roket telah ditembakkan ke Israel dari Gaza.

Militer Zionis menargetkan markas Haniyah dan kamp kepolisian, ketika para pemimpin dair Mesir, Qatar dan Turki bertemu di Kairo untuk membicarakan gencatan senjata.

Sementara itu Gedung Putih mengatakan bahwa Presiden Barack Obama juga sedang berkomunikasi dengan para pemimpin Mesir dan Turki, tetapi AS tetap menegaskan dukungannya terhadap Israel sejauh ini.

Lebih dari 40 warga Palestina telah gugur dan hampir 400 lainnya menderita luka-luka akibat serangan-serangan udara Zionis sejak Rabu (14/11).

Di sisi lain, Mujahidin terus berusaha membalas serangan-serangan Zionis dengan menembakkan roket-roket ke wilayah yang dikuasai Israel.

Akibat serangan pasukan Zionis Yahudi di Gaza

Pasukan Zionis Yahudi terus melancarkan serangan-serangan ke seluruh Jalur Gaza, melalui udara dan laut, dan ribuan pasukan darat telah dikerahkan ke Gaza untuk perluasan invasi militer. Pada hari Sabtu (17/11/2012) saja, 300 serangan udara menghantam Gaza, menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar dan menyebabkan kerusakan parah pada gedung-gedung pemerintah Gaza serta rumah-rumah penduduk Muslim.

Laporan sementara mengatakan bahwa kemarin tercatat sekitar 48 warga Palestina telah meninggal dan lebih dari 400 menderita luka-luka. Laporan jumlah korban ini masih simpang siur mengingat banyaknya korban luka yang kritis dan menyerah pada luka mereka (meningggal) sehingga jumlah korban terus meningkat, dan selain itu serangan-serangan Zionis masih berlangsung.

Sebagian korban adalah anak-anak tak berdosa dan para wanita serta orang-orang tua. Bahkan bayi yang berumur 10 tahun dan bayi yang masih dalam kandungan turut menjadi korban.

Israel telah mengancam akan memperluas serangannya ke Gaza, hingga para pejuang Palestina berhenti dari menembakkan roket ke wilayah kekuasaan Israel. Israel mengklaim bahwa agresinya adalah bentuk "pilar pertahanan" negara, padahal orang-orang yang waras di seluruh dunia tahu bahwa pasukan Zionis lah yang selalu memulai perang. Sementara perlawanan rakyat Gaza adalah bentuk pertahanan diri yang sebenarnya.

Dalam sebuah laporan yang beredar di Twitter mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa sebuah "kejutan" akan dikirim ke rakyat Gaza.

"#Breaking : Netanyahu says a surprise will be sent to the people of#Gaza at 8:00 PM.." lansir Gaza Youth Break Out ‏@GazaYBO, Sabtu (17/11).

Di sisi lain, para Mujahidin di Gaza dan sekitarnya terus berusaha membalas pasukan Zionis Yahudi, dengan pertolongan Allah roket-roket Mujahidin telah mengenai target Yahudi dan bahkan pesawat tempur mereka.

Jihad adalah satu-satunya solusi untuk Palestina, demikian juga bagi kaum Muslimin di negara lainnya yang sedang diperangi oleh orang-orang kafir.

"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah"." (Qs. Al-Hajj [22): 39-40)

Palestina Menangis, Gaza Meronta,Zionis Yahudi tertawa


Sudah… aku sudah rapuh... tubuhku meronta, tulangku meminta keluar dari jasadku. Jiwaku tertahan. Debu mulai menempel di pipi berminyakku... nafas tersengal nampak hendak memukul hatiku.

Tulangku meronta sekali lagi, ia meminta keluar dari tubuhku… debu-debu mulai lagi menempel dengan keras di pipiku... aku masih diam di sini. Masih berdiam. Dan diam. Aku tak bisa ke sana, aku tak bisa berbuat sekongkrit mereka... berjuang ke tanah Palestina...

Tulangku mengoyak-ngoyak jasadku, lebih keras... sakit sekali... debu mengingatkan padaku, ”Kaukah saudara muslimnya? tak pantas…!”. Allahuakbar, apakah aku pantas disebut saudara mereka..? Apakah pantas..? sebagai saudara mereka yang ada di sana, saudaraku yang sedang dibantai... nun jauh di Palestina, di jalur GAZA..



GAZA TERLUKA. PALESTINA BERDUKA. APAKAH KITA BENAR-BENAR SAUDARA MUSLIM MEREKA?
______________________________________________________________________________


KEMANA KAKAK-KAKAK MUSLIM KAMI???
KEMANA SAUDARA MUSLIMKU??? KEMANAKAH???
KEPALA ADIK BERDARAH KAK….
KEPALAKU SAKIT SEKALI KAK…
TOLONGLAH AKU KAK…TOLONGLAH AKU KAK…
__________________________________________________________________________


Ketika aku kecil... aku telah bermain dengan tank itu... Yang setiap saat dapat membunuhku…
__________________________________________________________________________

__________________________________________________________________________


Ketika aku kecil… permainanku adalah dengan senjata nyata… senjata yang tak ragu-ragu untuk langsung membunuhku…
__________________________________________________________________________


Saudara-saudaraku telah dibunuh… Tank itu ku lawan dengan batu… aku heran melihat saudaraku yang beradu batu dan senjata sesama saudara muslimnya. Apakah mereka berani untuk melawan tank-tank ini? Dimanakah Saudara muslimku???
__________________________________________________________________________


Kakak tersayangnya telah syahid kini… tak ada lagi hari bermain-main bersamanya... Adik kecil itu mungkin akan segera menjemput kakaknya…
__________________________________________________________________________


Matanya telah berbicara… Ketakutan yang sangat… Masa kecil yang tak terpikirkan
__________________________________________________________________________


Ia tak bisa kembali ke rumahnya… Rumahnya telah menjadi puing… Tidur dimanakah ia malam ini?
__________________________________________________________________________


Bayi tak berdosa pun menjadi korban… Apakah mungkin adik kita berikutnya yang menjadi korban? Wallahualam…
__________________________________________________________________________


Bermandikan darah sejak kecil… Kuatkah kau jika begini? Masih membuat lelucon kah kau?
__________________________________________________________________________


__________________________________________________________________________


__________________________________________________________________________


__________________________________________________________________________


__________________________________________________________________________


“Ibu… jangan menangis wahai ibuku tersayang… Aku telah syahid ibu… Jangan menangis lagi ibu… “
__________________________________________________________________________


“Rumahku dimana?”….”Ibu... Ibu dimana?”...”Ayah... Ayah dimana?”…
__________________________________________________________________________


Ya Allah… kuatkan hari-hari ke depan anak kecil itu... karena ia akan segera masuk ke penjara tanpa pengadilan... dengan siksaan yang tak terpikirkan…
__________________________________________________________________________


Ia baru hidup di dunia sebentar… dengan cepatnya meninggal dengan kesan yang menghujam hati... namun ia telah syahid… seorang bayi kecil telah syahid dengan tubuhnya yang terkoyak-koyak…
__________________________________________________________________________







__________________________________________________________________________


Ya Allah… aku sudah tidak kuat lagi untuk berkomentar…
Hanya tetesan mataku yang sekarang mengalir di lekukan hidungku, melewati pipiku…
inikah perih yang dirasakan mereka? Apakah Aku, Ibuku, Ayahku, Adik-adikku akan seperti ini juga nantinya..?
Ya Allah selamatkanlah saudara-saudara kami di Palestina...
Ya Allah… Ya Allah… Hancurkanlah Zionis Israel dan Sekutunya Ya Allah, kami yakin dengan janji-janjiMu…
Ya Allah… diriku selama ini telah banyak berbuat dosa... Ampuni kami Ya Allah... Bukalah hati kami Ya Allah... untuk merasakan apa yang diderita saudara kami di Palestina Ya Allah...

Semoga keprihatinan, rasa sedih, rasa haru, rasa tangis, rasa marah, rasa geram, dan rasa kepedulian kita akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita pernah peduli dengan saudara kita di Palestina… menjadi saksi untuk meringankan keadaan kita di Yaumil Akhir kelak…

Selamatkan kami semua Ya Allah..Selamatkan saudara-saudara kami…Selamatkan Ya Allah..
__________________________________________________________________________


__________________________________________________________________________


Adik-adikku… bersabarlah... kami kakak-kakakmu di sini akan membantu semampu kami… adik-adikku di belahan bumi para Anbiya... yang tegar ya… Semoga kita bisa bertemu di Surga-Nya kelak…

"We will not go down..."


Sign The Petition: http://www.change.org/petisi/world-leaders-please-make-policies-and-actions-to-stop-israel-attack-to-gaza-forever
Foto terbaru keadaan di Gaza: http://arrahmah.com/read/2012/11/18/24810-foto-foto-akibat-serangan-pasukan-zionis-yahudi-di-gaza-november-2012.html#

Donasikan untuk Palestina! BSM - 701.836.2133 | BCA - 760.032.5099 // a.n Komnas u Rakyat Palestina

Jika kamu aktif di social media, agar gerakan dukungan untuk Gaza-Palestina makin meluas dan dapat didengar oleh pemimpin-pemimpin di negara kita dan dunia, ayo kompakan gunakan hashtag ini ya  --> #PrayForGaza #GazaUnderAttack . Lakukan apa yang kita bisa walau hanya sekedar share, tweet, RT, ataupun memberi hashtag! #PrayForGaza #GazaUnderAttack

Makna dua kalimat Syahadat "Ashadu anLaa ilaaha illallah"

Written By Unknown on Minggu, 11 November 2012 | 08.51



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Makna Syahadat "Ashadu anLaa ilaaha illallah"

Yaitu beri'tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, menta'ati hal terse-but dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selainAllah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah. 

Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, "Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah". Khabar "Laa " harusditaqdirkan "bi haqqi" (yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan "maujud " (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yangada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. 

Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhantersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini Tentu kebatilan yang nyata. 

Kalimat "Laa ilaaha illallah" telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil, antara lain: 

[1]."Laa ilaaha illallah" artinya:

"Tidak ada sesembahan kecuali Allah", Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah. 

[2]. "Laa ilaaha illallah" artinya:

"Tidak ada pencipta selain Allah" . Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud,karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup. 

[3]. "Laa ilaaha illallah" artinya:

"Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah". Ini juga sebagian dari makna kalimat " ". Tapi bukan itu yang dimaksud,karena makna tersebut belum cukup 

Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. 

Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti), tidak adasesembahan yang hak selain Allah) seperti tersebut di atas. 

 وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Makna Syahadat "Wa Ashadu Anna Muhammadan Rasulullah"

Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secarakeseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: menta'ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhilarangannya, dan tidak menyembah
Allah kecuali dengan apa yang disyari'atkan.


Syahadat bukanlah semata kata-kata yang tersusun indah,Syahadat bukan semata syair  atau lantunan suara yang terdengar merdu,Syahadat  bukan pula kalimat yang di ucapkan tanpa konsekuensi  dan tanggung jawab.Syahadat  bukan semata identitas  yang terkadang dipalsukan untuk mengelabui orang lain dan menipu banyak orang.


Kalimat syahadat adalah kalimat agung yang bertuah dan tidak tertandingi oleh apapun.Kalimat syahadat adalah perjanjian dengan Alloh yang di ikrarkan bersamaan dengan pemberian ruhnya kepada manusia.
Kalimat syahadat adalkah kekuatan yang mengantar seseorang  pada tingkat tinggi dan mampu menembus ruang dan waktu manakala dalam bersyahadat itu didasari hal-hal sebagai berikut,Yaitu:
  1. Ilmu ( Al-Ilmu ) Bersyahadat harus dengan ilmu
  2. Yaqin (Al-Yaqin ) Bersyahadat dengan keyakinan
  3. Menerima ( Al-Qobul ) Bersyahadat harus menerima dengan hati
  4. Rela dipimpin ( Al-Inqiyad ) Bersyahadat Rela Untuk dipimpin atau diarahkan
  5. Jujur ( Ash-Shidiqu ) Bersyahadat harus jujur dan benar
  6. Ikhlas (al-Ikhlas ) Bersyahadat Harus disertai dengan Keikhlasan
  7. Cinta (Al –Mahabah ) Bersyahadat harus didasari dengan cinta
Insha Alloh kita akan bisa menembus ruang waktu ketika kita bersyahadat didasri 7 hal tersebut

Do'a Mohon Perlindungan Dari Keburukan Miskin Dan Kaya

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Saat ini kami akan menyajikan kembali kumpulan do’a singkat namun penuh makna. Do’a ini disajikan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Riyadhus Sholihin. Do’a yang akan kita angkat adalah do’a berlindung dari keburukan kaya dan fakir. Do’a ini teramat penting bagi kita karena kadang kekayaan dan kemiskinan mendatangkan kebaikan, kadang pula mendatangkan keburukan. Semoga bermanfaat.

Hadits selengkapnya sebagai berikut.

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِىُّ أَخْبَرَنَا عِيسَى حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَدْعُو بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ ».

Telah menceritakan kepada Kami Ibrahim bin Musa Ar Razi, telah memberitakan kepadaku Isa telah menceritakan kepada Kami Hisyam dari ayahnya dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdoa dengan kalimat-kalimat ini, yaitu:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ

"ALLAAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN FITNATIN NAAR WA 'ADZAABIN NAAR, WA MIN SYARRIL GHINAA WAL FAQR" (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah Neraka dan adzab Neraka, serta dari keburukan kekayaan dan kefakiran)." (HR. Abu Daud no. 1543. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Faedah dari do’a di atas:

Pertama: Pentingnya berlindung dari adzab (siksa) neraka.

Kedua: Adzab neraka biasa ditimpakan bagi orang-orang kafir. Sedangkan ahli tauhid yang mereka mampir dulu di neraka sebab dosa-dosa mereka, mereka bukan diadzab. Mereka hanya dibersihkan dari dosa yang mereka perbuat.[1] Demikian keterangan dari penulis ‘Aunul Ma’bud, Al ‘Azhim Abadi rahimahullah.

Ini menunjukkan bahwa selama seseorang bertauhid atau beriman dengan benar, jika ia masuk neraka, ia tidak akan kekal di dalamnya.

Ketiga: Permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram. –Demikian keterangan dari Ibnu Katsir rahimahullah-.[2]

Keempat: Di antara jalan selamat dari neraka adalah dengan melatih diri untuk bersyukur, bersabar dan tidak melupakan dzikir pada Allah. Ada perkataan yang amat baik dari Al Qosim bin ‘Abdirrahman,

من أعطي قلبا شاكرًا، ولسانًا ذاكرًا، وجسدًا صابرًا، فقد أوتي في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة، ووقي عذاب النار.

“Barangsiapa yang dianugerahkan hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, jasad yang selalu bersabar, sungguh ia akan diberi kebahagiaan dunia, kebahagiaan akhirat dan diselamatkan dari siksa neraka.”[3]

Kelima: Berlindung dari fitnah neraka dapat berarti berlindung dari siksa yang akan menjerumuskan dalam neraka, yang mana siksa tersebut akan terus berulang ketika seseorang di dalamnya.

Juga yang dimaksud dengan berlindung dari fitnah neraka adalah berlindung dari pertanyaan penjaga neraka, di mana maksud pertanyaan tersebut untuk menjelekkan orang yang masuk ke dalamnya. Pengertian kedua ini adalah isyarat dari firman Allah Ta’ala dalam surat Al Mulk,

كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْج سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِير

“Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: "Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?" (QS. Al Mulk: 8) –Demikian penjelasan menarik dari penulis ‘Aunul Ma’bud-[4].

Keenam: Pentingnya berlindung dari kekayaan yang dapat membawa pada keburukan. Yang dimaksudkan di sini adalah sifat sombong dan melampaui batas terhadap kekayaan yang diberikan. Yang dimaksudkan juga adalah menggunakan harta untuk hal-hal yang diharamkan atau hal maksiat, juga untuk saling berbangga dengan harta dan kedudukan.[5] Semoga Allah melindungi kita dari sifat yang buruk karena harta.

Ketujuh: Pentingnya berlindung dari kefakiran (kemiskinan) yang mengandung kejelekan. Yang dimaksudkan di sini adalah sifat hasad[6] (dengki) dengan orang-orang kaya dan begitu tamak dengan harta-harta mereka. Juga yang dimaksudkan keburukan miskin adalah menghinakan diri (dengan meminta-minta atau mengemis) sehingga merendahkan kehormatan dan merusak agama. Yang dimaksudkan keburukannya lagi adalah tidak ridho dengan ketentuan Allah yang telah membagi rizki pada setiap makhluk dengan begitu adilnya.[7]

Kedelapan: Dalam lafazh lainnya dalam sunan At Tirmidzi, digunakan lafazh syarri fitnatil ghina (شَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى) dan syarri fitnatil faqr (شَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ).[8] Yang dimaksud fitnah kaya dan miskin bisa berarti ujian atau cobaan.[9] Bisa jadi kekayaan dan kemiskinan adalah cobaan yang Allah beri. Dengan kekayaan mampukah seseorang untuk bersyukur. Dengan kemiskinan bernarkah ia mampu bersabar. Jadi keduanya bisa jadi ujian.

Kesembilan: Kekayaan dan kemiskinan kadang bisa membawa pada kebaikan dan kadang pula bisa membawa pada kerusakan.

Haji, Madrasah Berkah Melatih Jiwa Sucikan Hati

Kaum muslimin, ibadah haji merupakan madrasah yang dipenuhi berkah, media pembelajaran untuk melatih jiwa, menyucikan hati, dan memperkuat iman. Kaum muslimin akan menjumpai berbagai pelajaran dan faedah yang terkait dengan akidah, ibadah, dan akhlak di tengah-tengah pelaksanaan haji mereka.

Dapat dipastikan, bahwa ibadah haji merupakan madrasah pendidikan keimanan di mana lulusannya adalah para hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, mereka yang mereguk manfaat dari ibadah tersebut adalah para hamba Allah yang diberi taufik oleh-Nya. Allah ta’ala berfirman,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (٢٧)لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ (٢٨)

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka …” (Al Hajj: 27-28).

Berbagai manfaat, faedah, dan pelajaran berharga yang terdapat dalam ibadah haji tidak mungkin untuk dihitung, karena sebagaimana di dalam ayat di atas, Allah berfirman dengan kata “مَنَافِعَ” yang merupakan bentuk plural dari kata “منفعة” yang disebutkan secara indefinitif (nakirah) sehingga mengisyaratkan betapa banyak dan beragam manfaat yang akan diperoleh dari ibadah haji.

Tujuan ibadah haji ini adalah agar berbagai manfaat tersebut diperoleh oleh mereka yang melaksanakannya, karena huruf lam pada firman-Nya “لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ” berfungsi untuk menerangkan alasan yang terkait dengan firman-Nya yang sebelumnya, yaitu ayat “وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ”, sehingga redaksi ayat tersebut bermakna, “(Wahai Muhammad), jika engkau menyeru mereka untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu, baik dengan berjalan kaki dan berkendara untuk memperoleh berbagai manfaat haji.”

Oleh karena itu, mereka yang diberi taufik untuk melaksanakan ibadah ini hendaklah bersemangat dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh manfaat tersebut, di samping dirinya akan memperoleh pahala yang besar dan pengampunan dosa dari Allah ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa yang berhaji di rumah ini, kemudian tidak berbuat keji dan maksiat, niscaya dia akan kembali dalam kondisi seperti tatkala dirinya dilahirkan oleh ibunya (tidak memiliko dosa apapun).”[1]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Laksanakanlah haji dan umrah, karena keduanya menghapus kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat dari besi.”[2]

Tentunya, seorang yang memperoleh keuntungan ini kembali ke negaranya dengan kondisi yang suci, jiwa yang bersih, dan kehidupan baru yang dipenuhi dengan cahaya iman dan takwa, penuh dengan kebaikan, keshalihan, serta berkomitmen dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala.

Ulama telah menyebutkan bahwa apabila keshalihan dan kesucian jiwa ini terdapat dalam diri hamba, maka hal tersebut merupakan tanda bahwa Allah telah ridha kepadanya dan ciri bahwa amalannya telah diterima oleh-Nya. Apabila kondisi seorang yang telah melaksanakan haji menjadi baik, dengan berpindah dari kondisi yang buruk menjadi baik, atau dari kondisi baik menjadi lebih baik, maka hal ini merupakan tanda bahwa hajinya bermanfaat, karena balasan dari suatu kebaikan adalah tumbuhnya kebaikan sesudah kebaikan yang pertama sebagaimana firman Allah ta’ala,

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ (٦٠)

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar Rahman: 60).

Dengan demikian, barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji dengan baik dan bersungguh-sungguh menyempurnakannya, serta menjauhi berbagai hal yang mampu membatalkan dan mengurangi pahala berhaji, tentulah dia akan keluar dari madrasah tersebut dengan kondisi yang lebih baik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surga.”[3]

Tentu setiap orang yang berhaji ingin dan berharap ibadah haji yang dikerjakannya menjadi haji yang mabrur dan segala upaya yang dikerahkannya mendapat pahala dan diterima di sisi-Nya. Tanda yang jelas bahwa ibadah haji yang dikerjakan mabrur dan diterima adalah ibadah haji tersebut dilaksanakan ikhlas mengharap Wajah Allah ta’ala dan sesuai dengan tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua syarat ini merupakan syarat mutlak agar suatu amal ibadah diterima di sisi-Nya, di samping itu (keduanya harus ditunjang dengan tanda yang lain, yaitu) kondisi seorang yang berhaji menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Dengan demikian terdapat dua tanda yang menjadi ciri bahwa ibadah haji yang dikerjakan diterima di sisi-Nya. Pertama, tanda yang terdapat di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji, yaitu orang yang berhaji melaksanakannya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, tanda yang muncul setelah ibadah haji dikerjakan, yaitu tumbuhnya keshalihan pada diri orang yang telah berhaji, yang ditandai dengan bertambahnya ketaatan dan semakin jauhnya dia dari kemaksiatan dan dosa. Dia memulai kehidupan yang baik, kehidupan yang dipenuhi dengan keshalihan dan istiqamah.

Patut diperhatikan bahwa seorang muslim tidak boleh memastikan bahwa amalnya telah diterima oleh Allah, meski dia telah mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Allah ta’ala telah menjelaskan kondisi orang-orang yang memiliki keimanan yang sempurna perihal amal ketaatan yang mereka kerjakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (٦٠)

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al Mukminun: 60).

Maksud dari ayat di atas adalah mereka telah mengerjakan ibadah yang diperintahkan kepada mereka berupa shalat, zakat, puasa ,haji dan selainnya, namun mereka merasa takut tatkala amalan tersebut dihadapkan kepada Allah dan tatkala mereka berdiri di hadapan Allah, ternyata amalan tersebut tidak mampu menyelamatkan dan ketaatan yang telah dilakukan tidak diterima oleh-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah rdah, bahwa dia berkata,

“Aku berkata kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai firman Allah (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut “, “Apakah yang dimaksud adalah pria yang berzina dan meminum khamr?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai putrid Abu Bakr” atau “Tidak, wahai putrid Ash Shiddiq, akan tetapi dia adalah pria yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, akan tetapi dia takut amalannya tersebut tidak diterima oleh Allah ta’ala.”[4]

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,

إن المؤمن جمع إحسانا وشفقة ، وإن المنافق جمع إساءة وأمنا

“Sesungguhnya seorang mukmin mengumpulkan amal kebaikan dan rasa takut sedangkan seorang munafik menggabungkan amal keburukan dan rasa aman.”[5]

Telah menjadi kebiasaan kaum mukminin sejak dahulu hingga saat ini tatkala selesai melaksanakan ibadah ini mereka saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Mereka semua mengharapkan amalan mereka diterima.[6] Allah pun telah menyebutkan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa nabi Ibrahim dan anaknya Isma’il a.s., tatkala mereka berdua selesai mengerjakan pndasi Ka’bah, keduanya berdo’a kepada-Nya dengan ucapan

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (١٢٧)

“Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 127).

Mereka tetap mengucapkannya, padahal mereka telah menunaikan sebuah amal shalih yang agung, meski demikian mereka memohon kepada Allah agar sudi menerima amal mereka berdua tersebut.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Wuhaib ibnul Ward, bahwa ketika dia selesai membaca ayat ini, dirinya menangis, dan berkata,

يا خليل الرحمن، ترفع قوائم بيت الرحمن وأنت مُشْفق أن لا يتقبل منك

“Wahai kekasih Ar Rahman, engkau telah membangun pondasi rumah Ar Rahman, namun engkau masih saja takut amalan tersebut tidak diterima.”[7]

Jika kondisi pemimpin kaum yang hanif dan teladan bagi kaum yang bertauhid sedemikian rupa, maka bagaimanakah kiranya kondisi yang harus dimiliki oleh orang yang derajatnya di bawah beliau?

Kami memohon kepada Allah agar menerima seluruh amalan kaum muslimin, memberikan taufik dan hidayah kepada kita, menetapkan keselamatan dan perlindungan bagi mereka yang berhaji, menerima amalan shalih kita, dan memberi petunjuk kepada kita semua agar menempuh jalan yang lurus.

Penghancuran Al-Aqsa Tak Digubris Dunia Islam!

Warga Palestina menyuarakan ketakutan bahwa pekerjaan penggalian Israel yang masih berlanjut di bawah Haram al-Sharif (pemakaman suci) di Al-Quds (Yerussalem Timur terjajah) menciptakan sebuah bahaya yang "nyata dan segera" bagi Masjid Al-Aqsa, tempat tersuci ketiga Islam.

"Penggalian Israel dan yang masih berlanjut menggali tepat di bawah taman terbuka Haram al Sharif telah menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki bagi stabilitas dari fondasi Masjid Al-Aqsa," Sheikh Raed Salah, pemimpin dari gerakan Islam, mengatakan.

Salah, yang dengan teliti telah memantau penggalian Israel di Kota Tua Al-Quds selama lebih dari 25 tahun, mengatakan Israel tidak memberikan perhatian pada protes-protes oleh negara-negara Arab dan Muslim atas resiko dari sikap penggaliannya bagi tempat-tempat suci Islam.

Beberapa tahun ini, pemerintahan Israel, bekerja sama dengan kelompok imigran kuat, memulai penggalian jaringan perpanjangan terowongan melewati Kota Tua.

Israel menggambarkan terowongan tersebut sebagai "proyek wisata" yang tidak mengajukan ancaman bagi tempat-tempat suci Islam.

Bagaimana pun juga, warga Palestina dan beberapa organisasi Israel, termasuk Komite Israel Melawan Penghancuran Rumah (Israel Committee Against House Demolition), mempercayai bahwa tujuan pokok adalah untuk menciptakan akses rute rahasia untuk menyerang Al-Aqsa dan tempat-tempat suci Islam lain di daerah tersebut.

Tahun lalu, seorang pengacara Israel mewakili kelompok anti-imigran, Ir Amin, mengungkap bahwa imigran yang dibiayai pemerintah berusaha untuk mengeluarkan "Fakta-fakta yang tidak dapat diubah" sebagai bagian dari sebuah skema pengambilalihan.

"Saya tidak memiliki keraguan bahwa fondasi masjid Al-Aqsa telah menjadi sangat melemah karena terowongan-terowongan tersebut dan banyak penggalian lain," Sheikh Salah mempertahankan.

"Anda tidak harus menjadi arsitek yang hebat untuk menyadari hal ini. Kami telah melihat lubang-lubang dan retakan di semua daerah."

Sebuah bagian dari halaman masjid Al-Aqsa longsor pada tahun lalu sebagai sebuah hasil dari penggalian di bawahnya.

Keruntuhan tersebut terjadi di dekat air mancur Qaitbay di bagian barat dari masjid.

Lubang sedalam satu meter terlihat sebagai sebuah pertanda hal-hal buruk akan datang.

Sebuah sekolah di perkampungan Silwan juga sebagian runtuh karena penggalian Israel di daerah tersebut.

Menghancurkan Al-Aqsa

Sheikh Salah mengatakan ia benar-benar yakin bahwa Israel ingin menghancurkan Masjid Al-Aqsa.

"Mereka ingin melakukan hal ini dalam sebuah cara yang terlihat terjadi sebagai sebuah hasil dari sebab alam, seperti gempa bumi."

Salah mengatakan bahwa Israel memiliki sebuah "rencana yang sangat jahat" dan bertindak ketika Muslim masih hanya melihat dan memuaskan mereka dengan bantahan verbal.

"Reaksi verbal tidak akan menghentikan rancangan Israel terhadap tempat-tempat suci Israel, terutama Masjid Al-Aqsa," ia menekankan.

"Kami membutuhkan sebuah pendirian proaktif oleh orang-orang Muslim dan pemerintahan. Muslim harus mengirimkan sebuah pesan yang tak dapat diragukan kepada Israel dan pendukung-pendukungnya bahwa tempat-tempat suci Islam di Al-Quds merupakan garis merah."

Al-Aqsa merupakan kiblat (arah Muslim selam melakukan sholat) pertama Muslim dan masjid tersebut merupakan tempat tersuci ketiga setelah Kabah di Mekkah dan Masjid Nabi Muhammad di Madinah, Saudi Arabia.

Signifikansinya telah diperkuat oleh peristiwa Al Isra dan Al Miraj – malam perjalanan dari Mekkah ke Al-Quds dan kenaikan ke surga oleh Nabi Muhammad saw.

Pemimpin keagamaan Israel, termasuk anggota Knesset, tidak membuat rahasia dari skema mereka menyangkut Al-Aqsa.

The Temple Mount Faithful (Kuil Bukit Setia), sebuah kelompok fanatik ekstrimis, diabdikan kepada penghancuran Masjid Al-Aqsa dan Kubah Batu (Dome of the Rock).

The Temple Mount Institute, kelompok Yahudi ekstrimis yang lain, telah mempersiapkan detil rencana untuk membangun ulang dugaan Kuil Solomon di atas reruntuhan Al-Aqsa.

Kelompok tersbeut mempunyai sebuah bentuk dasar yang besar dari kuil tersebut, baju-baju khusus bagi rabbi-rabbinya, tempat-tempat khusus bagi korban persembahan, piala dupa, bejana tembaga untuk persembahan makanan, bejana perak untuk persembahan anggur kepada dewa dan perkakas persembahan yang lain.

Tidak ada Pernyataan yang Berlebih-lebihan

Dalam beberapa tahun ini, pendudukan otoritas Israel telah mengijinkan ekstrimis Yahudi untuk berdoa di dalam taman terbuka Haram al Sharif.

Para Pejabat Wakaf Muslim (sumbangan keagamaan) telah memperingatkan bahwa mengijinkan orang-oranng Yahudi untuk berdoa di Haram hanya bagian dari skema yang lebih besar untuk merebut tempat-tempat suci Islam.

"Saya pikir mereka ingin melindungi sebuah pijakan, dimana mereka kemudian akan menggunakannya untuk memeperkuat dan memperluas kehadiran Yahudi," Sheikh Muhammed Hussein, Kepala dari Dewan Mahkamah Agung Muslim yang mengawasi Haram al Sharif, mempertahankan.

"Inilah mengapa Muslim di seluruh dunia, orang-orang dan pemerintahan, harus memprotes dengan keras agresi kasar dan proaktif pada kesucian dari tempat-tempat suci Islam."

Sheikh Raed Salah, yang telah mendedikasikan dirinya sendiri untuk mengungkap skema Israel di Al-Quds, mengatakan bahwa Muslim seluruh dunia seharusnya menyadari bahwa peringatan-peringatan berulangnya bukanlah semata pernyataan yang berlebih-lebihan.

"Kapankah Muslim akan menyadari bahwa bahaya tersebut nyata? Ketika Masjid tersebut dihancurkan dan berita kehancurannya muncul di media bara?"

Ia memiliki satu pesan tegas kepada Muslim dan mereka yang peduli tentang Al-Quds dan Al-Aqsa.

"Hanya sebuah kebangkitan yang cepat dan murni oleh Arab dan Muslim yang dapat membantu, dan hal inilah apa yang sebenarnya kami usahakan untuk kami jalankan.

AS Ciptakan Frankenstaein Untuk Hancurkan Irak

Cahaya di langit Baghdad, yang dipenuhi pasir berterbangan, semakin memudar ketika Hassan Mahsan mengingat kembali apa yang terjadi kepada keluarganya musim panas lalu. Hassan dan keluarganya berdiri di halaman rumah petaknya, anak-anaknya tengah asyik bermain. Tiba-tiba seorang tentara datang menuju ke arah putri kecilnya, kemudian mencengkeram kepala putrinya seperti sebuah melon. Kemudian, dia menodongkan senjatanya ke arah kepala putrinya dan mengokang senjatanya, lalu berkata, "Tinggal pilih, katakan dimana al-Zaydawi atau saya akan membunuh gadis kecil ini."

"Mereka kemudian merangsek masuk kedalam rumah saya dan mengambil apapun yang mereka inginkan," kata ibunda Hassan. "Seumur-umur, saya belum pernah melihat orang yang melakukan tindakan seperti itu."

Pertama-tama, Hassan tidak dapat mengenali apakah tentara yang datang adalah tentara Irak atau AS. Tentara tersebut mengenalkan diri sebagai seorang sersan polisi, menawarkan identitas dirinya sebelum mereka meraih pistol dan memukulnya hingga jatuh tersungkur di tanah. Para tentara tersebut tidak bertindak seperti layaknya tentara Irak yang pernah dia lihat. Mereka terlihat dan berbicara seperti warga desa, tapi mereka mengenakan seragam bergaya Amerika dan menenteng senjata buatan AS dilengkapi dengan teropong yang dapat melihat menembus kegelapan. Para tentara tersebut menuduhnya sebagai komandan gerakan milisi setempat, mereka kemudian menggelandang Hassan keluar. Namun sebelum mereka pergi, mereka "memperkenalkan diri". "Kami adalah pasukan khusus. Brigade kotor," kata-kata tersebut masih terngiang dalam ingatan Hassan.

Pasukan khusus Irak (ISOF) kemungkinan adalah pasukan khusus terbesar yang pernah dibentuk oleh AS, pasukan tersebut diberian kebebasan dalam ban

yak hal, dimana biasanya pasukan semacam itu justri dikekang dan dikendalikan.

Proyek pasukan khusus tersebut dimulai ketika AS menjajah Irak pada tahun 2003. Pasukan khusus AS, atau pasukan baret hijau, melatih pemuda Irak yang berusia 18 tahun yang belum pernah memiliki pengalaman militer sebelumnya. Hasilnya adalah sebuah pasukan elit, mematikan, dan rahasia, dilengkapi dengan persenjataan AS. Pasukan tersebut akan beroperasi selama bertahun-tahun dibawah perintah AS dan tidak akan bertanggung jawab terhadap pemerintah Irak.

Menurut catatan kongres, ISOF telah berkembang menjadi sembilan batalion, yang ditempatkan di empat pusat komando di seluruh wilayah Irak. ISOF setidaknya berkekuatan 4.564 orang, membuatnya sama besar dengan kekuatan pasukan AS di Irak. Catatan Kongres AS mengindikasikan bahwa ada rencana untuk mengandakan jumlah anggota ISOF dalam beberapa tahun mendatang.

Menurut Letnan Kolonel Purnawirawan Roger Carstens, pasukan khusus AS membangun kekuatan yang paling dahsyat di Timur Tengah.

"Yang ingin dilakukan oleh para pria tersebut adalah keluar dan membunuh seharian," katanya. "Mereka benar-benar hebat, sehebat kami. Karena kami yang melatih mereka, mereka adalah monster Frankenstein yang kami ciptakan. Mereka memper

gunakan senjata yang sama. Bahkan cara berjalan merekapun seperti orang Amerika."

Ketika pasukan khusus AS perlahan memindahkan kendali ISOF ke tangan Irak pada bulan April 2007, AS tidak memberikan kendali pasukan kepada kementerian pertahanan atau kementerian dalam negeri, badan yang biasanya memegang kendali atas pasukan khusus di dunia. Bukannya melakukan hla teresbut, AS mendesak pemerintah Irak untuk menciptakan sebuah kantor kementerian baru yang disebut biro kontra-terorisme. Biro tersebut kemudian didirikan atas perintahn perdana menteri Irak, Nuri al-Maliki, biro tersebut kemudian dapat memerintahkan ISOF untuk membantu tentara dan kepolisian. Berdasarkan perintah Maliki, parlemen Irak tidak memiliki kekuasaan terhadap ISOF dan hanya mengetahui sedikit saja perihal misi yang diemban pasukan tersebut.

Meski pasukan tersebut secara resmi dikendalikan oleh pemerintah Irak, publik Baghdad menilai bahw ISOF – brigade kotor – adalah sebuah pasukan rahasia, yang merupakan kepanjangan tangan dari militer AS. Pasukan AS masih terlibat cukup dekat dengan setiap tingkatan ISOF, nulai merencanakan dan melaksanakan misi, hingga menentukan taktik dan menciptakan kebijakan.

Ketika keluarga Hassan diserang,

batalion ISOF bergerak atas kemauannya sendiri, tanpa perintah AS, di kota Sadr, dimana kesepakatan politik melarang AS untuk menginjakkan kaki di sana.

Di Sadr, pasuka

n tersebut memburu pemuka agama anti-AS, Muqtada al-Sadr. ISOF kemudian membuat rencana sendiri dan menarget warga sipil, menyerang Hassan al-Rubaie, anggota komite pertahanan dan keamanan parlemen.

"Mereka meneror seluruh kawasan perumahan untuk menahan satu orang yang mereka tuding sebagai teroris," katanya. "Mereka harus dihentikan."

Para penasihat pasukan khusus AS tidak melakukan banyak hal untuk menangapi tindakan penyiksaan. Keluhan warga sipil, protes keras dari masyarakat, sehubungan dengan tindakan ISOF.

Pada malam yang sama, di kediaman Hassan Mahsan, terjadi penyerangan. Haidar al-Alibi, 26 tahun ditewaskan oleh sebutir peluru yang bersarang di dahinya. Keluarganya mengatakan bahwa sama sekali tidak ada peringatan sebelumnya.

Fathil al-Aibi mengatakan bahwa keluarganya telah terbangun di tengah malam dengan bunyi Ledakan. Saudara laki-lakinya. Haidar, berlari ke atas atap untuk melihat apa yang terjadi dan kemudian ditembak dari liteng terdekat. Ketika Fathil, saudaranya Hussein dan sang ayah, Abbas mencoba untuk membawa Haidar ke lantai bawah, mereka juga tak luput dari berondongan peluru.

"Padahal, kami besok akan menjalani tes bersama di universitas," kata Hussein. "Kami sama sekali tidak menyangka bahwa akhirnya akan menjadi seperti ini."

Komandan Polisi Ahmed Sibli juga mengaku ditembaki oleh ISOF. Dia kemudian memperlihatkan dua lubang bekas tembakan peluru di

rumahnya dengan diterangi cahaya temaram lampu minyak tanah.

Pasukan tersebut menenteng senjata buatan AS, bukan AK-47 atau PKC yang dipergunakan polisi nasional. Tembakan yang dilancarkan ISOF bukan merupakan tembakan peringatan. "Mereka menembaki saya dengan membabi buta."

Pasukan Irak datang untuk merespon tembakan tersebut, dan menurut Hussein al-Aibi, para tentara Irak juga tak luput dari tembakan, tentara Irak berhasil mengevakuasi jasad Haidar dari atap dan membawanya ke rumah sakit. Dalam perjalanan, kata Fathil, kendaraan militer dihentikan oleh brigade kotor yang kemudian bertanya kepada mayor Abu Rajdi, kemana tujuannya. Masih menurut Fathil. Rajdi mengatakan, "Dia ini hanya mahasiswa biasa yang tidak tahu apa-apa, dan kalian menembakinya denga membabi buta."

Di pemakaman Haidar, Fathil meminta Rajdi untuk bersaksi. "Anda adalah perwakilan pemerintahan dan anda tahu persis apa yang terjadi," katanya. "Anda melihat bahwa (Haidar) tidak menenteng senjata macam apapun di tangannya."

Namun sang mayor menol

ak permintaan tersebut. "Mereka adalah brigade kotor, kami takut pada mereka. Kapanpun kami melihat mereka, kami lebih memilih untuk mundur, jika saya bersaksi melawan mereka, keesokan harinya saya bisa jadi berada dalam kantong mayat. Pasukan tersebut bisa dengan seenaknya membunuh dan tidak harus bertanggungjawab, karena mereka adalah kepanjangan tangan AS.

Rasa takut dan tidak percaya Mayor Rajdi kepada ISOF juga dirasakan oleh anggota pasukan Irak lainnya. "Kadang kami terkejut saat pasukan khusus tersebut masuk," kata Letkol Yahya Rasoul Abdullah, komandan batalion ketiga dari brigade 42 di kota Sadr.

"Hal-hal buruk selalu terjadi, ada diantara mereka yang mencuri, ada yang melecehkan wanita. Mereka tidak mengenal para penduduk, mereka hanya mengejar target yang ditentukan. Kami sudah lama menderita karena masalah ini."

Sangat mungkin AS mengetahui mengenai kekerasan terhadap warga sipil di Adhamiya.

Kepala proyek ISOF Amerika adalah jenderal Trombitas dari tim transisi anti-teror Irak. Trombitas adalah seorang pria tinggi besar dengan kumis yang memutih dan alis yang melengkung. Trombitas menghabiskan waktu tujuh tahun untuk melatih pasukan khusus di Kolombia, El Salvador dan negara-negara lainnya.

Hassan al-Rubaie merasa khawatir dengan hubungan dekat antara AS dengan ISOF. "Jika AS meninggalkan Irak, maka pasukan tersebut akan menjadi pasukan terakhir yang mereka tinggalkan di Irak," katanya. Dia mengkhawatirkan bahwa sebuah kekuatan militer yang begitu kuat dan rahasia dan berhubungan dekat dengan AS dapat merubah Irak menjadi basis milite. AS kemudian akan mampu melanjutkan "misi" di Irak dengan mengatasnamakan ISOF, "(ISOF) telah menjadi semacam pengganti bagi pasukan AS," katanya.

Presiden Obama mengatakan bahwa dirinya berencana untuk meningkatkan pasukan khusus AS. Pertemuan menteri pertahanan Robert Gates dengan Stanley McChrystal sebagai komandan Afghanistan semakin menegaskan hal tersebut

Partai Islam Bangkit Di Mana-Mana, Di Indonesia pun Mulai Menggeliat

Partai Islam Bangkit Di Mana-Mana, Di Indonesia pun Mulai Menggeliat ! Tapi demikian, opini dan perbincangan politik menyongsong Pileg (Pemilu Legislatif) dan Pilpres (Pemilu Presiden) 2004 sudah amat kental akan kesimpulan bahwa Partai Islam terpuruk dan semakin terpuruk, sesuai dengan judul di atas. Pasca Pileg 2009, Yusril Ihza Mahendra, seorang pimpinan teras Partai Bulan Bintang (PBB) menolak keras opini itu. Kata Yusril, kekalahan PBB, bukan sermata-mata kesalahan internal partai yang kurang gigih bekerja, tapi juga karena didzalimi oleh sistem.

Klaim bahwa partai Islam menurut survei dikatakan terus-menerus menurun, peminatnya, hal ini tidak benar, karena faktanya dalam Pemilu 2009 lalu, kata Yusril, semua partai politik (yang lolos Parliament Threshold) ternyata semua merosot perolehan suaranya dibandingkan Pemilu 2004, kecuali satu partai saja yang naik drastis suaranya, yakni Partai Demokrat. Yusril tidak merinci partainya, PBB, didzalimi itu seperti apa. PBB menempati urutan ke-10 perolehan suara, dan hanya 9 partai saja yang lolos Parliament Threshold. Belakangan muncul berita, di antara alasan memperkarakan Antasari Azhar sebagai otak pembunuh, Antasari, sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, dikutip pers hendak membongkar manipulasi dan penyelewengan IT dalam Pileg 2009 itu.

Data yang disampaikan Yusril memang tak bisa dibantah, karena perolehan suara itu sudah diumumkan, dan klaim Yusril itu benar adanya. Tapi mengapa muncul opini, bahwa partai Islam terpuruk, dan faktanya memang terpuruk. Suara PPP (Partai Persatuan Pembangunan), PKS (Partai Keadilan Sejahtera), merosot drastis, dan PBB, menurut HMS Kaban sang Ketua Umum, walau secara matematis suaranya bahkan naik sedikit dibanding Pemilu 2004, tapi karena sistem dikenakannya Parliament Threshold tadi, maka PBB terjungkal keluar dari gelanggang. Sementara model stambush-accord, penggabungan suara , karena ditiadakan, maka pintu berkoalisi dengan partai Islam lain, yakni PKNU, menjadi tertutup rapat-rapat. Padahal suara PKNU saat itu cukup signifikan, dan jika digabung dengan PBB niscaya menjadi kekuatan penyeimbang di DPR-RI. Inilah yang dikatakan Yusril sebagai didzalimi oleh sistem.

Opini untuk mengkerdilkan Partai Islam, sejatinya hanyalah riak yang kini menjadi gelombang besar sekaligus mengkerdilkan, bahkan mendiskreditkan Islam. Dalam ranah opini, kendati Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia, tapi sungguh ironis dalam berbagai kasus menyangkut aspirasi Islam, niscaya dikalahkan gelombang opini yang menentangnya. Kekuatan penentang seperti ini dimungkinkan karena mereka menguasai sepenuhnya lembaga pers, apapun jenisnya.

Kekuatan penentang Islam semakin menemukan “kemenangannya” setelah berhasil mendudukkan Joko Widodo dan Ahok menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta belum lama berselang. Umat Islam melalui berbagai tokoh bahkan MUI (Majelis Ulama Indonesia) terang-terangan menentang penguasa DKI Jakarta diduduki oleh golongan bukan Islam (Ahok yang Protestan). Tapi upaya gigih tokoh dan ulama ini gagal, walau Joko Widodo-Ahok hanya menang sangat tipis atas Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Kemenangan Joko Widodo-Ahok ini, digadang-gadang sebagai model Pileg dan Pilpres--dan sudah tentu semua Pilkada--yang ideal. Maknanya Presiden pun bisa saja dipilih dari golongan minoritas, bukan Islam, bukan suku Jawa. Rakyat DKI Jakarta yang mutlak mayoritas Islam itu pun dipuji-puji dan disanjung sebagai rakyat yang sangat cerdas, telah mau memilih Ahok yang Cina. Besok didorong jika ingin disebut cerdas harus berani pula memilih presiden yang Kristen, Cina dan seterusnya. Apakah dorongan dan provokasi seperti ini berlaku kepada rakyat golongan Kristen dan keturunan Cina. Sedikitpun mereka tidak disinggung, jika berani memilih tokoh Islam, sebagai cerdas. Faktanya, semua, penduduk beragama Kristen dan keturunan Cina bersatu-bulat memilih Ahok, namun mereka tidak dituduh-tuduh sebagai fundamentalis, primordialis. Sangat licik dan jauh dari bermain fair, dan demokratis sebagaimana didengang-dengungkan selama ini.

Sangat Malang dan Terlunta-lunta

Bahwa selama ini umat Islam berkeluh-kesah kondisinya selalu dimarginalkan alias dipinggirkan oleh rejim Soeharto selama puluhan tahun, tapi kondisi itu ternyata tetap berlaku bahkan lebih parah di era yang dinamakan era reformasi ini. Sangat malang dan terlunta-lunta, aspirasi Islam.

Di era para founding-fathers, para pemimpin bangsa yang Muslim, terjun dalam Pemilu 1955, kekuatan partai Islam tercatat sejarah mengalahkan golongan nasionalis-sekuler. Perolehan kursi Pemilu 1955 menempatkan PNI dan Masyumi, sebagai terbesar. Kelebihan suara PNI atas Masyumi tidak cukup diperhitungkan sebagai 1 kursi. Jika suara Masyumi digabung dengan NU, sebagai pemenang ke-3 Pemilu 1955, niscaya kekuatan partai Islam menang pada Pemilu 1955 itu.

Sejarah berulang pada Pemilu era reformasi 1999, PDI Perjuangan memenangi Pemilu 1999 ini dengan suara 32% lebih. Suara partai Islam yang bercerai-berai dalam belasan partai Islam dibuat KO. Namun ketika muncul ide Poros-Tengah, bergabungnya partai-partai Islam dan partai berbasis massa Islam, PDI Perjuangan pun dibuat mati-kutu dalam Pilpres di gedung Parlemen. Abdurrahman Wahid pun terpilih sebagai presiden RI ke-4 menggantikan BJ. Habibie. Megawati terpilih keesokan harinya sebagai Wakil Presiden, hanya karena “Belas-kasihan” Abdurrahman yang meminta semua pimpinan Poros-Tengah merelakan pilihan seperti ini. Mengapa pelajaran kongkrit : Poros-Tengah tidak pernah dijadikan solusi membalikkan keterpurukan partai-partai Islam? Bukankan ajaran Islam sendiri mendorong terciptanya persaudaraan Islam? Kepentingan dan egoisme, puak dan kelompok mengalahkan akal sehat yang sudah terbukti secara matematis menjadi solusi kemenangan itu.

Salah satu “Penyakit” kronis di kalangan aktifis dan politisi Islam adalah tidak PD (pecaya diri) mengusung perjuangan dan ideologi Islam. Tidak berani secara total. Mental seperti ini sudah dimulai, pada 1998, ketika Amien Rais sudah menyetujui duduk sebagai Ketua Umum PPP, belakangan juga PBB, tiba-tiba Amien mengumumkan berdirinya Partai Amanat Nasional (PAN) yang dibentuk sebagai partai terbuka. Anggota PAN pun muncul aktifis Cina, Alfin Lee, juga Bara Hasibuan yang Nasrani. Dengan masuknya Alfin Lee dan Bara apakah menyebabkan orang Kristen dan Cina memilih PAN, ternyata tidak sama sekali. Cara berpikir yang cenderung mengidap inferiority-complex ini diikuti PKS yang mengumumkan sebagai partai terbuka pada muktamar PKS di Bali beberapa tahun lalu. Apa hasilnya, PKS justru memanen perpecahan sengit di kalangan internal PKS. Dan yang lebih fatal menyebabkan perolehan suara PKS merosot pada Pemilu 2009 lalu. Apalagi ditambah perilaku satu, dua anggota PKS yang jauh dari teladan--ingat kasus anggota PKS yang sedang getol menonton video porno di tengah persidangan DPR dan diabadikan oleh kamera wartawan-- yang kemudian dijadikan bahan empuk untuk selalu menyudutkan partai-partai Islam.

Kini dengan maraknya kebangkitan kekuatan politik Islam di Timur Tengah, pasca Revolusi Flamboyan seperti di Mesir, Tunisia, Aljazair, juga jauh sebelumnya di Turki, apa yang terjadi pada partai-partai Islam di Indonesia hanya membuat getir bahkan pahit. Apalagi di tengah opini luas kalangan politisi/Parlemen, juga partai politik yang citranya amat buruk dewasa ini, maka masa depan kemenangan politik tampaknya justru mengandalkan kekuatan tokoh yang akan ditampilkan. Dan partai Islam pun saat ini kosong dari tokoh, pemimpin yang teladan. Sebenarnya kalangan parta Nasionalis- sekuler pun sama halnya kosong dari tokoh yang layak diusungnya. Buktinya mereka hanya menggadang-gadang tokoh lama yang sudah diketahui cacat.

Masih ada waktu untuk mempersiapkan tokoh Islam sejati dan teladan bagi semua kekuatan partai Islam. Masih ada waktu untuk partai Islam berlaku PD untuk mengusung ideologi Islam, dengan tegas dan total. Masih ada waktu bagi partai Islam untuk bersatu-padu dalam wadah persatuan Islam yang terbukti membawa kemenangan itu. Wallahua'lam bissawab

Jangan Asal Beribadah, Karena Ibadah Bersifat Tauqifiyah!

Written By Unknown on Kamis, 08 November 2012 | 23.08

Sering kita dengar istilah tauqifiyah. Salah satunya dalam masalah ibadah. Bahwa ibadah bersifat tauqifiyah. Lalu apa makna dan maksud istilah tauqifiyyah tersebut?

Makna perkataan para ulama yang menjelaskan “Ibadah adalah tauqifiyah” atau “Ibadah dibangun di atas tauqif” adalah tidak boleh beribadah kepada Allah dengan satu ibadah kecuali apabila ibadah ini telah benar-benar terdapat ketetapannya dalam nash-nash syar’i (Al-Qur’an dan sunnah) bahwa itu ibadah yang telah Allah Ta’ala Syariatkan. Karena ibadah tidak disyariatkan (tidak diperintahkan) kecuali dengan adanya dalil syar’i yang menunjukkan atas perintah tersebut.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3) Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama ini untuk kita, maka apa yang tidak Allah Ta’ala syariatkan sesudah turunnya ayat ini maka bukan bagian dari agama kita.

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ ، ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ ، إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidak ada sesuatu yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah diterangkan kepada kalian.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir no. 1647 dan dishahihkan dalam al-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani rahimahullaah)

مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللهُ بِهِ إِلاَّ وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ ، وَلاَ تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ إِلاَّ وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

“Tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang Allah perintahkan kepada kalian kecuali telah aku perintahkan kalian melaksanakannya. Dan tidak juga aku meninggalkan suatu larangan yang telah Allah larang kalian darinya kecuali telah aku larang kalian darinya.” (HR. al-Syafi’i dalam Musnadnya dan dihassankan Al-Albani dalam al-Shahihah)

Maka apa yang tidak pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jelaskan kepada kita, maka ia bukan bagian dari agama ini dan bukan pula amalan yang bisa mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka.

"Ibadah adalah tauqifiyah” adalah tidak boleh beribadah kepada Allah dengan satu ibadah kecuali apabila ibadah ini telah benar-benar terdapat ketetapannya dalam nash-nash syar’i (Al-Qur’an dan sunnah) bahwa itu ibadah yang telah Allah Ta’ala syariatkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah berkata, “Berdasarkan pengkajian terhadap ushul syariah, kita mengetahui bahwa ibadah-ibadah yang telah Allah wajibkan atau yang Dia cintai tidak ditetapkan perintahnya kecuali dengan syariat. Sedangkan adat (tradisi) adalah apa yang biasa dikerjakan manusia dalam kehidupan dunianya untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Maka hukum asal dalam masalah ini adalah tidak ada larangan. Tidak boleh dilarang kecuali apa yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal itu, karena perintah dan larangan adalah syariat (ajaran) Allah Ta’ala. Sedangkan ibadah harus ada perintahnya. Maka yang tidak ada ketetapan bahwa itu diperintahkan, bagaimana bisa disebut ibadah? Dan adat kebiasaan apa saja yang tidak ditetapkan bahwa itu dilarang, bagaimana bisa dihukumi dilarang?

Oleh karena inilah, Imam Ahmad dan ulama hadits lainnya berkata: Sesungguhnya hukum asal dalam ibadah adalah tauqif, tidak disyariatkan kecuali apa yang telah Allah Ta’ala syariatkan. Jika tidak demikian maka kita telah masuk dalam makna firman Allah Ta’ala,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”

Sedangkan adat (tradisi) hukum asalnya dimaafkan, tidak boleh dilarang. Kecuali apa yang telah Allah haramkan. Jika tidak demikian, maka kita telah masuk dalam makna firman Allah,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا

“Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal".” (QS. Yunus: 59)

Oleh karenanya, Allah mencela kaum musyrikin yang mereka membuat syariat dalam agama mereka yang tidak diizinkan oleh Allah dan mengharamkan sesuatu yang tidak Dia haramkan.” (Majmu’ al-Fatawa: 29/16-17)

Maka hukum asal dalam masalah adat (tradisi) adalah tidak ada larangan. Tidak boleh dilarang kecuali apa yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal itu, karena perintah dan larangan adalah syariat (ajaran) Allah Ta’ala.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullaah berkata, “Ibadah adalah tauqifiyah, maka apa saja yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya secara mutlak, seperti itulah disyariatkannya. Sedangkan yang disyariatkan dengan terikat waktu atau tempat maka kita batasi dan kita ikat dengan tempat dan waktu tersebut.” (Fatawa wa Rasail Muhammad bin Ibrahim: 6/75)

Ulama Lajnah Daimah berkata, “Ibadah dibangun di atas tauqif. Karenanya tidak boleh dikatakan bahwa ini ibadah yang disyariatkan ditinjau dari sisi asal perintahnya, jumlahnya, bentuknya, atau tempatnya kecuali dengan dalil syar’i yang menunjukan perintah itu.” (Fatawa al-Lajnah al-Daimah: 3/73)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah berkata, “Hukum asal ibadah adalah larangan. Karenanya bagi seseorang tidak boleh beribadah untuk Allah kecuali dengan sesuatu yang tidak pernah Allah syariatkan; baik dalam kitab-Nya atau dalam sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Dan kapan saja seseorang ragu terhadap salah satu amal, apakah ia ibadah atau tidak, maka pada asalnya ia bukan ibadah sehingga ada dalil yang menunjukkan bahwa hal itu merupakan ibadah.” (Fatawa Nuur ‘Ala al-Darb: 1/169)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Ibadah adalah tauqifiyah, tidak boleh mengamalkan suatu ibadah di satu tempat, waktu, corak ibadah tertentu kecuali dengan tauqif dan perintah dari Syaari’ (pembuat syariat/Allah Ta’ala). Adapun orang yang membuat-buat hal baru yang tidak pernah diperintahkan oleh Syaari’ dari urusan ibadah, tempatnya, waktunya, atau bentuknya maka ia adalah bid’ah.” (al-Muntaqa’ min Fatawa al-Fauzan: 13/16)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullaah berkata, “Ibadah adalah tauqifiyah, maka tidak disyariatkan kecuali apa yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti shalat lima waktu, zakat, puasa Ramadlan, haji dan ibadah-ibadah lainnya yang telah Allah syariatkan berupa shalat-shalat sunnah, shadaqah, shaum, haji, jihad dan yang selain itu yang telah ditetapkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bukti disyariatkannya, baik berupa sabda atau amal beliau, seperti shalat Dzuha, shalat istikharah, tahiyatul masjid dan amal-amal ibadah lainnya yang telah ditunjukkan oleh dalil-dalil syar’i.” (Dinukil dari www.binbaz.org.sa)

Karenanya tidak boleh dikatakan bahwa ini ibadah yang disyariatkan ditinjau dari sisi asal perintahnya, jumlahnya, bentuknya, atau tempatnya kecuali dengan dalil syar’i yang menunjukan perintah itu.

(Lajnah Daimah)

Ringkasnya, bahwa hukum asal ibadah adalah haram dan tidak boleh ditegakkan kecuali adanya dalil syar’i yang memerintahkannya; baik berupa perintah dasar adanya, waktu, tempat, atau tata caranya. Karenanya bagi yang ingin beribadah kepada Allah harus mengetahui dan memastikan bahwa amal ibadah yang akan dikerjakannya memang benar-benar ada perintahnya dari Al-Qur’an dan sunnah. Dia juga harus memperhatikan tentang waktu, tempat, dan tata caranya karena semua itu menjadi bagian makna tauqifiyah. Wallahu a’lam bil shawab.

Di Akhri Zaman Tahiyatul Masjid Diremehkan

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Ketika seseorang memasuki masjid, janganlah ia duduk sehingga melaksanakan shalat dua rakaat yang disebut dengan tahiyatul masjid. Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Jika salah seorang kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum mengerjakan shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tujuan dari pelaksanaan shalat dua rakaat ini adalah untuk menghormati masjid. Karena masjid memiliki kehormatan dan kedudukan mulia yang harus dijaga oleh orang yang memasukinya. Yaitu dengan tidak duduk sehingga melaksanakan shalat tahiyatul masjid ini. Karena pentingnya shalat ini, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tetap memerintahkan seorang sahabatnya - Sulaik al-Ghaathafani - yang langsung duduk shalat memasuki masjid untuk mendengarkan khutbah dari lisannya. Ya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak membiarkannya duduk walaupun untuk mendengarkan khutbah dari lisannya, maka selayaknya kita memperhatikan shalat ini.

Begitu juga Jabir radhiyallahu 'anhu, saat ia datang ke masjid untuk mengambil harga untanya yang dijualnya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau memerintahkannya untuk shalat dua rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dari hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dia pernah masuk masjid, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya padanya, “Apakah kamu sudah shalat dua rakaat?” Dia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Bangunlah, laksanakan dua rakaat!”

Maka berdasarkan dalil-dalil tersebut di atas, seluruh ulama sepakat tentang disyariatkannya shalat tahiyatul masjid (Fathul Baari: 2/407). Bahkan sebagiannya -khususnya dari madzhab Dzahiriyah- berpendapat wajib dengan berpatokan pada dzahir hadits. Sedangkan jumhur ulama berpendapat sunnah, berdasarkan beberapa hadits lain yang memalingkannya kepada anjuran. Di antaranya, hadits tentang shalat lima waktu, maka ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, “Apakah aku punya kewajiban selainnya?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali bila engkau mengerjakan yang sunnah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengarang Shahih Fiqih Sunnah menguatkan pendapat jumhur dengan menyebutkan hadits Waqid al-Laitsi, “Bahwasanya tatkala Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sedang duduk di dalam masjid bersama jamaah, tiba-tiba datangnya tiga orang. Dua orang mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan yang satunya pergi. Kemudian keduanya berdiri di hadapan beliau. Adapun salah seorang dari keduanya melihat celah di majlis itu, maka ia duduk di tempat yang kosong itu. Sedangkan yang lainnya duduk di belakang mereka.

Setelah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam selesai dari majlisnya, beliau bersabda: “Maukah aku kabarkan tentang tiga orang tadi? Adapun seorang dari mereka, ia datang menemui Allah maka Allah datang menemuinya. Adapun yang seorang tadi, ia malu maka Allah malu kepadanya. Adapun yang seorang lagi, ia berpaling maka Allah berpaling darinya.” (Al-Bukhari)

Menurut Syaikh Abu Malik Kamal, kedua orang tersebut langsung duduk dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak memerintahkannya untuk shalat dua rakaat. Wallahu a’lam.

Siapa yang dikecualikan dari perintah ini?

Ada beberapa orang yang dikecualikan dari perintah shalat tahiyatul masjid, yaitu:

Khatib Jum’at, apabila dia masuk masjid untuk khutbah Jum’at, tidak disunnahkan shalat dua rakaat. Tapi dia langsung berdiri di atas mimbar, mengucapkan salam lalu duduk untuk mendengarkan adzan, kemudian baru menyampaikan khutbah.
Pengurus masjid yang berulang-kali keluar masuk masjid. Kalau ia melaksanakan shalat tahiyatul masjid setiap masuk masjid, maka sangat memberatkan baginya.
Orang yang memasuki masjid saat imam sudah mulai memimpin shalat berjama’ah atau saat iqamah dikumandangkan, maka ia bergabung bersama imam melaksanakan shalat berjama’ah. Karena shalat fardhu telah mencukupkan dari melaksanakan Tahiyatul Masjid. (Lihat: Subulus Salam, Imam al-Shan’ani: 1/320)

Sebagian ulama lainnya, tetap menganjurkan untuk melaksakan Tahiyatul Masjid setiap memasuki masjid, walau dia bolak-balik masuk masjid. Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah Imam al-Nawawi, Ibnu Taimiyah, dan dzahir dari pendapat madzhab Hambali. (Lihat: al-Majmu’: 4/320)

Imam Syaukani dalam Naulil Authar (3/70) berpendapat bahwa Tahiyatul Masjid tetap disyariatkan setiap kali masuk masjid walaupun berulang kali masuk masjid berdasarkan dzahir hadits. Wallahu a’lam.

Hikmah Tahiyatul Masjid

Melaksanakan Tahiyatul Masjid merupakan bentuk pemuliaan terhadap masjid sebagai Baitullah (rumah Allah). Kedudukannya seperti mengucapkan salam saat memasuki rumah atau seperti mengucapkan salam saat bertemu saudara seiman.

Imam Nawawi rahimahullaah berkata, “Sebagian mereka (ulama) mengungkapkannya dengan Tahiyyah Rabbil Masjid (menghormati Rabb -Tuhan yang disembah dalam- masjid), karena maksud dari shalat tersebut sebagai kegiatan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, bukan kepada masjidnya, karena orang yang memasuki rumah raja, ia akan menghormat kepada raja bukan kepada rumahnya.” (Lihat: Hasyiyah Ibnu Qasim: 2/252)

. . . Shalat dua rakaat saat memasuki masjid berarti menghormati dan mengagungkan Rabb yang disembah di dalamnya. . .

Di akhri zaman Tahiyatul Masjid diremehkan

Syaikh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil dalam kitabnya Asyratus Sa’ah menyebutkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah munculnya sikap meremehkan sunnah-sunnah yang dianjurkan Islam dan Syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wa Ta'ala. Salah satunya adalah tidak melaksanakan Tahiyatul Masjid saat memasukinya, sebagaimana yang disinyalir dalam sebuah hadits, dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu berkata, “Aku Mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَمُرَّ الرَّجُلُ فِي الْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya kiamat adalah seseorang melalui (masuk) masjid, namun tidak melakukan shalat dua rakaat di dalamnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah: 2/253 no. 649 dengan memberikan catatan kaki di bawahnya bahwa dalam sanadnya ada yang dhaif, tapi ia memiliki jalur lain dari Ibnu Mas’ud yang memperkuat sanadnya).

Dan dalam riwayat lain disebutkan;

أَنْ يَجْتَازَ الرَّجُلُ بِالْمَسْجِدِ فَلَا يُصَلِّي فِيْهِ

“Orang melalui masjid tapi tidak melakukan shalat di dalamnya.” (HR. Al-Bazzar dan dishahihkan oleh Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid: 7/329)

Dan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ تُتَّخَذَ المَسَاجِدُ طُرُقًا

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya kiamat adalah masjid dijadikan sebagai jalan (tempat berlalu lalang).” (HR. Musnad al-Thayalisi dan Al-Mustadrak al-Hakim. Syaikh Al-Albani menghasankan redaksi serupa dalam Shahih Al-Jami’ no. 5899)

Bahkan secara jelas Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melarang menjadikan masjid sebagai tempat lalu lalang tanpa ditegakkan shalat tahiyatul masjid ketika memasukinya.

لَا تَتَّخِذُوا المَسَاجِدَ طُرُقًا ، إِلَّا لِذِكْرٍ أَوْ صَلَاةٍ

“Janganlah kalian jadikan masjid sebagai jalan (tempat lewat), kecuali untuk berdzikir atau shalat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir: 12/314 dan al-Ausath: 1/14. Syaikh Al-Albani rahimahullaah mengatakan, “Sanad ini hasan, seluruh rijalnya (perawinya) tsiqat (terpercaya).” Lihat: Silsilah Shahihah no. 1001)

. . . salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah munculnya sikap meremehkan sunnah-sunnah yang dianjurkan Islam dan Syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Salah satunya adalah tidak melaksanakan Tahiyatul Masjid saat memasukinya . . .

Sedangkan maksud menjadikan masjid sebagai jalan adalah dengan menjadikannya sebagai tempat lewat atau berlalunya manusia untuk memenuhi hajat mereka. Masuk dari satu pintu masjid dan keluar dari pintu lainnya tanpa melaksanakan shalat di dalamnya. Sedangkan orang yang masuk masjid dan shalat di dalamnya tidak dikategorikan sebagai orang yang menjadikan masjid sebagai tempat lalu lalang yang dilarang.

Al-Hasan al-Bashri ternah ditanya, “Tidakkah Anda benci kalau ada seseorang lewat di dalam masjid lalu tidak shalat di dalamnya? Beliau menjawab, “Pasti (saya benci).” (Lihat al-Mushannaf milik Abdul Razaq: 3/154-158)

Di mana letak keburukannya?

Orang yang sengaja meninggalkan Tahiyatul Masjid saat memasukinya tanpa ada udzur telah melakukan tindakan yang tidak sesuai sunnah dan tidak mengagungkan syi’ar Allah (segala sesuatu yang dijadikan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah). Padahal yang demikian itu merupakan tanda iman dan takwa sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Kalau begitu tradisi dan budaya yang sedang menggejala di tengah-tengah umat, menjadikan masjid sebagai tempat melangsungkan akad nikah dan resepsi tanpa menghormati dan menjaga adab-adab masjid termasuk bagian yang dilarang. Para hadirin masuk tanpa melakukan Tahiyatul Masjid, membiarkan maksiat di dalamnya berupa ikhtilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam masjid), wanita yang berdandan ala jahiliyah, nyanyian-nyanyian dan sebagainya.

Dan bencana yang lebih besar lagi adalah dijadikannya masjid sebagai tempat rekreasi dan bersenang-senang bagi orang-orang kafir setelah sebelumnya menjadi tempat untuk berdzikir dan beribadah sebagaimana kebanyakan masjid yang berada di Negara-negara yang berada di bawah kekuasaan kafir.

Penutup

Kiranya kita sebagai umat Islam yang mengetahui keagungan masjid senantiasa menjaga adab-adabnya dan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah di dalamnya dengan senantiasa menjaga dua rakaat Tahiyatul Masjid saat memasukinya dan tidak membuat tindakan yang menciderai kehormatan dan kemuliaan masjid dengan melakukan kemaksiatan dan pelangaran di dalamnya. Wallau Ta’ala a’lam