Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Hakikat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hakikat. Tampilkan semua postingan

Kewajiban Umat muslim baik itu laki laki dan perempuan adalah saling mengingatkan

Written By Unknown on Minggu, 11 November 2012 | 08.27

Kewajiban Umat muslim baik itu laki laki dan perempuan adalah saling mengingatkan

" ... orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr:103:3)


Tuntunan Quran dalam memilih pemimpin

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaam kepada kami mengenai "memilih pemimpin dalam islam" maka kami putuskan membuat halaman khusus untuk itu semoga bermanfaat

51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

(Al-Maidah:51)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”

(Al Maidah(5):57)

Bahkan Allah membrikan tuntunan dalam Alquran cara memilih Istri:

221. Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu'min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu'min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu'min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

SEBAB TURUNNYA AYAT: Diketengahkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abu Hatim dan Wahidi dari Muqatil, katanya, "Ayat ini diturunkan mengenai Ibnu Abu Martsad Al-Ghunawi yang meminta izin kepada Nabi saw. untuk mengawini seorang wanita musyrik yang cantik dan mempunyai kedudukan tinggi. Maka turunlah ayat ini." Diketengahkan oleh Wahidi dari jalur Suda dari Abu Malik dari Ibnu Abbas, katanya bahwa ayat ini turun mengenai Abdullah bin Rawahah. Ia mempunyai seorang budak sahaya hitam yang dimarahi dan dipukuli. Dalam keadaan kebingungan ia datang kepada Nabi saw. lalu menyampaikan beritanya, seraya katanya, "Saya akan membebaskannya dan akan mengawininya." Rencananya itu dilakukannya, hingga orang-orang pun menyalahkannya, kata mereka, "Dia menikahi budak wanita." Maka Allah swt. pun menurunkan ayat ini. Hadis ini dikeluarkan pula oleh Ibnu Jarir melalui As-Sadiy berpredikat munqathi.


2. Diutamakan Laki-laki

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
(An Nisa(4):34)
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang mengangkat seorang wanita sebagai pemimpinnya.” (HR. Bukhari)

3. Dewasa (Baligh)
Yakni memiliki kualitas yang baik dalam membedakan sesuatu yang benar dan salah, mana yang haq dan mana yang batil, yang ditunjang oleh ketaqwaan kepada Allah SWT., pengetahuan serta pengalaman bermasyarakat yang baik pula.

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (An Nisa(4):5)

4. Amanah dan ditunjang oleh disiplin Ilmu yang baik
Seorang pemimpin yang amanah dapat dipercaya dalam melaksanakan kepercayaan dan tanggung jawab dengan baik harus pula ditunjang oleh ilmu yang sesuai dengan bidangnya. Dengan memiliki ilmu yang baik dan berkualitas diapun akan jauh dari kendali dari golongan tertentu yang akan menjadikannya hanya sebagai pemimpin boneka demi kepentingan segolongan atau kelompok tertentu.

“Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Yusuf(12):55)
Sabda Baginda Nabi saw.:
“Apabila suatu urusan dipercayakan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya.”(HR. Bukhari)

5. Adil
Adil adalah tidak berat sebelah. Semua yang dipimpinnya haruslah disayangi dan diperlakukan dengan baik sesuai yang sudah diamanahkan, baik itu dulunya yang memilihnya ataupun yang tidak memilihnya ketika proses pemilihan pemimpin.

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shaad(38):26)

6. Sehat Jasmani maupun secara mental/kejiwaan
Menjadi pemimpin diperlukan fisik yang kuat serta mental yang tangguh dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang sudah diamanahkan. Mental yang kuat dalam menghadapi serangan-serangan dan provokasi lawan politiknya yang harus diselesaikan secara arif dan bijaksana.
Rasulullah saw bersabda:
“Dari Abu Dzar berkata, saya bertanya kepada Rasululloh SAW, mengapa engkau tidak meminta saya memegang sebuah jabatan?; Abu Dzar berkata lagi, lalu Rasululloh SAW menepuk punggung saya dengan tangannya seraya berkata; Wahai Abu Dzar,sesungguhnya kamu seorang yang lemah. Padahal, jabatan itu sesungguhnya adalah amanat (yang berat untuk ditunaikan)” (HR. Muslim)

Jangan Asal Beribadah, Karena Ibadah Bersifat Tauqifiyah!

Written By Unknown on Kamis, 08 November 2012 | 23.08

Sering kita dengar istilah tauqifiyah. Salah satunya dalam masalah ibadah. Bahwa ibadah bersifat tauqifiyah. Lalu apa makna dan maksud istilah tauqifiyyah tersebut?

Makna perkataan para ulama yang menjelaskan “Ibadah adalah tauqifiyah” atau “Ibadah dibangun di atas tauqif” adalah tidak boleh beribadah kepada Allah dengan satu ibadah kecuali apabila ibadah ini telah benar-benar terdapat ketetapannya dalam nash-nash syar’i (Al-Qur’an dan sunnah) bahwa itu ibadah yang telah Allah Ta’ala Syariatkan. Karena ibadah tidak disyariatkan (tidak diperintahkan) kecuali dengan adanya dalil syar’i yang menunjukkan atas perintah tersebut.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3) Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama ini untuk kita, maka apa yang tidak Allah Ta’ala syariatkan sesudah turunnya ayat ini maka bukan bagian dari agama kita.

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ ، ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ ، إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidak ada sesuatu yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah diterangkan kepada kalian.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir no. 1647 dan dishahihkan dalam al-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani rahimahullaah)

مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللهُ بِهِ إِلاَّ وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ ، وَلاَ تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ إِلاَّ وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

“Tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang Allah perintahkan kepada kalian kecuali telah aku perintahkan kalian melaksanakannya. Dan tidak juga aku meninggalkan suatu larangan yang telah Allah larang kalian darinya kecuali telah aku larang kalian darinya.” (HR. al-Syafi’i dalam Musnadnya dan dihassankan Al-Albani dalam al-Shahihah)

Maka apa yang tidak pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jelaskan kepada kita, maka ia bukan bagian dari agama ini dan bukan pula amalan yang bisa mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka.

"Ibadah adalah tauqifiyah” adalah tidak boleh beribadah kepada Allah dengan satu ibadah kecuali apabila ibadah ini telah benar-benar terdapat ketetapannya dalam nash-nash syar’i (Al-Qur’an dan sunnah) bahwa itu ibadah yang telah Allah Ta’ala syariatkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah berkata, “Berdasarkan pengkajian terhadap ushul syariah, kita mengetahui bahwa ibadah-ibadah yang telah Allah wajibkan atau yang Dia cintai tidak ditetapkan perintahnya kecuali dengan syariat. Sedangkan adat (tradisi) adalah apa yang biasa dikerjakan manusia dalam kehidupan dunianya untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Maka hukum asal dalam masalah ini adalah tidak ada larangan. Tidak boleh dilarang kecuali apa yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal itu, karena perintah dan larangan adalah syariat (ajaran) Allah Ta’ala. Sedangkan ibadah harus ada perintahnya. Maka yang tidak ada ketetapan bahwa itu diperintahkan, bagaimana bisa disebut ibadah? Dan adat kebiasaan apa saja yang tidak ditetapkan bahwa itu dilarang, bagaimana bisa dihukumi dilarang?

Oleh karena inilah, Imam Ahmad dan ulama hadits lainnya berkata: Sesungguhnya hukum asal dalam ibadah adalah tauqif, tidak disyariatkan kecuali apa yang telah Allah Ta’ala syariatkan. Jika tidak demikian maka kita telah masuk dalam makna firman Allah Ta’ala,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”

Sedangkan adat (tradisi) hukum asalnya dimaafkan, tidak boleh dilarang. Kecuali apa yang telah Allah haramkan. Jika tidak demikian, maka kita telah masuk dalam makna firman Allah,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا

“Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal".” (QS. Yunus: 59)

Oleh karenanya, Allah mencela kaum musyrikin yang mereka membuat syariat dalam agama mereka yang tidak diizinkan oleh Allah dan mengharamkan sesuatu yang tidak Dia haramkan.” (Majmu’ al-Fatawa: 29/16-17)

Maka hukum asal dalam masalah adat (tradisi) adalah tidak ada larangan. Tidak boleh dilarang kecuali apa yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal itu, karena perintah dan larangan adalah syariat (ajaran) Allah Ta’ala.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullaah berkata, “Ibadah adalah tauqifiyah, maka apa saja yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya secara mutlak, seperti itulah disyariatkannya. Sedangkan yang disyariatkan dengan terikat waktu atau tempat maka kita batasi dan kita ikat dengan tempat dan waktu tersebut.” (Fatawa wa Rasail Muhammad bin Ibrahim: 6/75)

Ulama Lajnah Daimah berkata, “Ibadah dibangun di atas tauqif. Karenanya tidak boleh dikatakan bahwa ini ibadah yang disyariatkan ditinjau dari sisi asal perintahnya, jumlahnya, bentuknya, atau tempatnya kecuali dengan dalil syar’i yang menunjukan perintah itu.” (Fatawa al-Lajnah al-Daimah: 3/73)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah berkata, “Hukum asal ibadah adalah larangan. Karenanya bagi seseorang tidak boleh beribadah untuk Allah kecuali dengan sesuatu yang tidak pernah Allah syariatkan; baik dalam kitab-Nya atau dalam sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Dan kapan saja seseorang ragu terhadap salah satu amal, apakah ia ibadah atau tidak, maka pada asalnya ia bukan ibadah sehingga ada dalil yang menunjukkan bahwa hal itu merupakan ibadah.” (Fatawa Nuur ‘Ala al-Darb: 1/169)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Ibadah adalah tauqifiyah, tidak boleh mengamalkan suatu ibadah di satu tempat, waktu, corak ibadah tertentu kecuali dengan tauqif dan perintah dari Syaari’ (pembuat syariat/Allah Ta’ala). Adapun orang yang membuat-buat hal baru yang tidak pernah diperintahkan oleh Syaari’ dari urusan ibadah, tempatnya, waktunya, atau bentuknya maka ia adalah bid’ah.” (al-Muntaqa’ min Fatawa al-Fauzan: 13/16)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullaah berkata, “Ibadah adalah tauqifiyah, maka tidak disyariatkan kecuali apa yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti shalat lima waktu, zakat, puasa Ramadlan, haji dan ibadah-ibadah lainnya yang telah Allah syariatkan berupa shalat-shalat sunnah, shadaqah, shaum, haji, jihad dan yang selain itu yang telah ditetapkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bukti disyariatkannya, baik berupa sabda atau amal beliau, seperti shalat Dzuha, shalat istikharah, tahiyatul masjid dan amal-amal ibadah lainnya yang telah ditunjukkan oleh dalil-dalil syar’i.” (Dinukil dari www.binbaz.org.sa)

Karenanya tidak boleh dikatakan bahwa ini ibadah yang disyariatkan ditinjau dari sisi asal perintahnya, jumlahnya, bentuknya, atau tempatnya kecuali dengan dalil syar’i yang menunjukan perintah itu.

(Lajnah Daimah)

Ringkasnya, bahwa hukum asal ibadah adalah haram dan tidak boleh ditegakkan kecuali adanya dalil syar’i yang memerintahkannya; baik berupa perintah dasar adanya, waktu, tempat, atau tata caranya. Karenanya bagi yang ingin beribadah kepada Allah harus mengetahui dan memastikan bahwa amal ibadah yang akan dikerjakannya memang benar-benar ada perintahnya dari Al-Qur’an dan sunnah. Dia juga harus memperhatikan tentang waktu, tempat, dan tata caranya karena semua itu menjadi bagian makna tauqifiyah. Wallahu a’lam bil shawab.

Di Akhri Zaman Tahiyatul Masjid Diremehkan

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Ketika seseorang memasuki masjid, janganlah ia duduk sehingga melaksanakan shalat dua rakaat yang disebut dengan tahiyatul masjid. Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Jika salah seorang kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum mengerjakan shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tujuan dari pelaksanaan shalat dua rakaat ini adalah untuk menghormati masjid. Karena masjid memiliki kehormatan dan kedudukan mulia yang harus dijaga oleh orang yang memasukinya. Yaitu dengan tidak duduk sehingga melaksanakan shalat tahiyatul masjid ini. Karena pentingnya shalat ini, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tetap memerintahkan seorang sahabatnya - Sulaik al-Ghaathafani - yang langsung duduk shalat memasuki masjid untuk mendengarkan khutbah dari lisannya. Ya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak membiarkannya duduk walaupun untuk mendengarkan khutbah dari lisannya, maka selayaknya kita memperhatikan shalat ini.

Begitu juga Jabir radhiyallahu 'anhu, saat ia datang ke masjid untuk mengambil harga untanya yang dijualnya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau memerintahkannya untuk shalat dua rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dari hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dia pernah masuk masjid, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya padanya, “Apakah kamu sudah shalat dua rakaat?” Dia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Bangunlah, laksanakan dua rakaat!”

Maka berdasarkan dalil-dalil tersebut di atas, seluruh ulama sepakat tentang disyariatkannya shalat tahiyatul masjid (Fathul Baari: 2/407). Bahkan sebagiannya -khususnya dari madzhab Dzahiriyah- berpendapat wajib dengan berpatokan pada dzahir hadits. Sedangkan jumhur ulama berpendapat sunnah, berdasarkan beberapa hadits lain yang memalingkannya kepada anjuran. Di antaranya, hadits tentang shalat lima waktu, maka ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, “Apakah aku punya kewajiban selainnya?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali bila engkau mengerjakan yang sunnah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengarang Shahih Fiqih Sunnah menguatkan pendapat jumhur dengan menyebutkan hadits Waqid al-Laitsi, “Bahwasanya tatkala Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sedang duduk di dalam masjid bersama jamaah, tiba-tiba datangnya tiga orang. Dua orang mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan yang satunya pergi. Kemudian keduanya berdiri di hadapan beliau. Adapun salah seorang dari keduanya melihat celah di majlis itu, maka ia duduk di tempat yang kosong itu. Sedangkan yang lainnya duduk di belakang mereka.

Setelah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam selesai dari majlisnya, beliau bersabda: “Maukah aku kabarkan tentang tiga orang tadi? Adapun seorang dari mereka, ia datang menemui Allah maka Allah datang menemuinya. Adapun yang seorang tadi, ia malu maka Allah malu kepadanya. Adapun yang seorang lagi, ia berpaling maka Allah berpaling darinya.” (Al-Bukhari)

Menurut Syaikh Abu Malik Kamal, kedua orang tersebut langsung duduk dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak memerintahkannya untuk shalat dua rakaat. Wallahu a’lam.

Siapa yang dikecualikan dari perintah ini?

Ada beberapa orang yang dikecualikan dari perintah shalat tahiyatul masjid, yaitu:

Khatib Jum’at, apabila dia masuk masjid untuk khutbah Jum’at, tidak disunnahkan shalat dua rakaat. Tapi dia langsung berdiri di atas mimbar, mengucapkan salam lalu duduk untuk mendengarkan adzan, kemudian baru menyampaikan khutbah.
Pengurus masjid yang berulang-kali keluar masuk masjid. Kalau ia melaksanakan shalat tahiyatul masjid setiap masuk masjid, maka sangat memberatkan baginya.
Orang yang memasuki masjid saat imam sudah mulai memimpin shalat berjama’ah atau saat iqamah dikumandangkan, maka ia bergabung bersama imam melaksanakan shalat berjama’ah. Karena shalat fardhu telah mencukupkan dari melaksanakan Tahiyatul Masjid. (Lihat: Subulus Salam, Imam al-Shan’ani: 1/320)

Sebagian ulama lainnya, tetap menganjurkan untuk melaksakan Tahiyatul Masjid setiap memasuki masjid, walau dia bolak-balik masuk masjid. Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah Imam al-Nawawi, Ibnu Taimiyah, dan dzahir dari pendapat madzhab Hambali. (Lihat: al-Majmu’: 4/320)

Imam Syaukani dalam Naulil Authar (3/70) berpendapat bahwa Tahiyatul Masjid tetap disyariatkan setiap kali masuk masjid walaupun berulang kali masuk masjid berdasarkan dzahir hadits. Wallahu a’lam.

Hikmah Tahiyatul Masjid

Melaksanakan Tahiyatul Masjid merupakan bentuk pemuliaan terhadap masjid sebagai Baitullah (rumah Allah). Kedudukannya seperti mengucapkan salam saat memasuki rumah atau seperti mengucapkan salam saat bertemu saudara seiman.

Imam Nawawi rahimahullaah berkata, “Sebagian mereka (ulama) mengungkapkannya dengan Tahiyyah Rabbil Masjid (menghormati Rabb -Tuhan yang disembah dalam- masjid), karena maksud dari shalat tersebut sebagai kegiatan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, bukan kepada masjidnya, karena orang yang memasuki rumah raja, ia akan menghormat kepada raja bukan kepada rumahnya.” (Lihat: Hasyiyah Ibnu Qasim: 2/252)

. . . Shalat dua rakaat saat memasuki masjid berarti menghormati dan mengagungkan Rabb yang disembah di dalamnya. . .

Di akhri zaman Tahiyatul Masjid diremehkan

Syaikh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil dalam kitabnya Asyratus Sa’ah menyebutkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah munculnya sikap meremehkan sunnah-sunnah yang dianjurkan Islam dan Syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wa Ta'ala. Salah satunya adalah tidak melaksanakan Tahiyatul Masjid saat memasukinya, sebagaimana yang disinyalir dalam sebuah hadits, dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu berkata, “Aku Mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَمُرَّ الرَّجُلُ فِي الْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya kiamat adalah seseorang melalui (masuk) masjid, namun tidak melakukan shalat dua rakaat di dalamnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah: 2/253 no. 649 dengan memberikan catatan kaki di bawahnya bahwa dalam sanadnya ada yang dhaif, tapi ia memiliki jalur lain dari Ibnu Mas’ud yang memperkuat sanadnya).

Dan dalam riwayat lain disebutkan;

أَنْ يَجْتَازَ الرَّجُلُ بِالْمَسْجِدِ فَلَا يُصَلِّي فِيْهِ

“Orang melalui masjid tapi tidak melakukan shalat di dalamnya.” (HR. Al-Bazzar dan dishahihkan oleh Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid: 7/329)

Dan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ تُتَّخَذَ المَسَاجِدُ طُرُقًا

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya kiamat adalah masjid dijadikan sebagai jalan (tempat berlalu lalang).” (HR. Musnad al-Thayalisi dan Al-Mustadrak al-Hakim. Syaikh Al-Albani menghasankan redaksi serupa dalam Shahih Al-Jami’ no. 5899)

Bahkan secara jelas Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melarang menjadikan masjid sebagai tempat lalu lalang tanpa ditegakkan shalat tahiyatul masjid ketika memasukinya.

لَا تَتَّخِذُوا المَسَاجِدَ طُرُقًا ، إِلَّا لِذِكْرٍ أَوْ صَلَاةٍ

“Janganlah kalian jadikan masjid sebagai jalan (tempat lewat), kecuali untuk berdzikir atau shalat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir: 12/314 dan al-Ausath: 1/14. Syaikh Al-Albani rahimahullaah mengatakan, “Sanad ini hasan, seluruh rijalnya (perawinya) tsiqat (terpercaya).” Lihat: Silsilah Shahihah no. 1001)

. . . salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah munculnya sikap meremehkan sunnah-sunnah yang dianjurkan Islam dan Syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Salah satunya adalah tidak melaksanakan Tahiyatul Masjid saat memasukinya . . .

Sedangkan maksud menjadikan masjid sebagai jalan adalah dengan menjadikannya sebagai tempat lewat atau berlalunya manusia untuk memenuhi hajat mereka. Masuk dari satu pintu masjid dan keluar dari pintu lainnya tanpa melaksanakan shalat di dalamnya. Sedangkan orang yang masuk masjid dan shalat di dalamnya tidak dikategorikan sebagai orang yang menjadikan masjid sebagai tempat lalu lalang yang dilarang.

Al-Hasan al-Bashri ternah ditanya, “Tidakkah Anda benci kalau ada seseorang lewat di dalam masjid lalu tidak shalat di dalamnya? Beliau menjawab, “Pasti (saya benci).” (Lihat al-Mushannaf milik Abdul Razaq: 3/154-158)

Di mana letak keburukannya?

Orang yang sengaja meninggalkan Tahiyatul Masjid saat memasukinya tanpa ada udzur telah melakukan tindakan yang tidak sesuai sunnah dan tidak mengagungkan syi’ar Allah (segala sesuatu yang dijadikan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah). Padahal yang demikian itu merupakan tanda iman dan takwa sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Kalau begitu tradisi dan budaya yang sedang menggejala di tengah-tengah umat, menjadikan masjid sebagai tempat melangsungkan akad nikah dan resepsi tanpa menghormati dan menjaga adab-adab masjid termasuk bagian yang dilarang. Para hadirin masuk tanpa melakukan Tahiyatul Masjid, membiarkan maksiat di dalamnya berupa ikhtilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam masjid), wanita yang berdandan ala jahiliyah, nyanyian-nyanyian dan sebagainya.

Dan bencana yang lebih besar lagi adalah dijadikannya masjid sebagai tempat rekreasi dan bersenang-senang bagi orang-orang kafir setelah sebelumnya menjadi tempat untuk berdzikir dan beribadah sebagaimana kebanyakan masjid yang berada di Negara-negara yang berada di bawah kekuasaan kafir.

Penutup

Kiranya kita sebagai umat Islam yang mengetahui keagungan masjid senantiasa menjaga adab-adabnya dan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah di dalamnya dengan senantiasa menjaga dua rakaat Tahiyatul Masjid saat memasukinya dan tidak membuat tindakan yang menciderai kehormatan dan kemuliaan masjid dengan melakukan kemaksiatan dan pelangaran di dalamnya. Wallau Ta’ala a’lam

Fatwa Ulama tentang Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad kepada keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:

Para pembaca yang dirahmati Allah,

Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 1431 Hijriyah dan akan memasuki tahun baru hijriyah 1432, sebagian besar kaum muslimin telah mempersiapkan perayaan untuk tahun baru Islam tersebut, di antaranya dengan bertukar ucapan selamat satu sama lain maka apa kedudukan ucapan selamat tahun baru hijriyah dari sisi syar’i?

Di bawah ini kami mengutip beberapa fatwa ulama besar dalam seputar tahun baru:

1. Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz rahimahullah

Syaikh Bin Baz pernah ditanya:

Kami pada permulaan tahun baru hijriyah, dan sebagian orang saling bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, mereka mengucapkan: (setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan), maka apa hukum syar’i terkait ucapan selamat ini?

Syaikh Bin Baz menjawab sbb:

Ucapan selamat tahun baru hijriyah kami tidak mengetahui dasarnya dari para Salafus Shalih, dan saya tidak mengetahui satupun dalil dari sunnah maupun Kitabullah yang menunjukkan pensyariatannya, tetapi siapa saja yang memulaimu dengan ucapan itu maka tidak mengapa kamu menjawabnya seperti itu, jika dia mengatakan: setiap tahun semoga anda dalam kebaikan maka tidak mengapa kamu menjawabnya semoga anda seperti itu kami memohon kepada Allah bagi kami dan bagimu setiap kebaikan atau semacamnya, adapun memulainya maka saya tidak mengetahui dasarnya.

2. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan 1:

Syaikh Utsaimin pernah ditanya mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah dengan pertanyaan sbb:

Syaikh yang mulia, apa hukum mengucapkan selamat tahun baru hijriyah? Dan apa kewajiban kita kepada orang yang mengucapkan selamat tahun baru hijriyah kepada kita?

Syaikh Utsaimin menjawab sbb:

Jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu maka jawablah, tapi jangan kamu memulainya. Inilah pendapat yang benar dalam masalah ini. Seandainya seseorang mengucapkan mengucapkan selamat tahun baru kepadamu, maka jawablah: semoga Allah menyampaikan selamat kebaikan untukmu dan menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan.

Tetapi ingat, jangan kamu memulainya karena saya tidak mengetahui adanya riwayat dari para Salafus Shalih bahwa mereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru hijriyah. Bahkan para Salaf belum menjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun baru kecuali pada masa khilafah Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu. (dikutip dari pertemuan bulanan ke-44 di akhir tahun 1417 H).

Pertanyaan 2:

Syaikh Utsaimin juga pernah ditanya: Syaikh yang mulia, apa pendapat anda mengenai tukar menukar ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah?

Maka Syaikh Utsaimin menjawab sbb:

Aku berpendapat bahwa memulai ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah tidak mengapa, namun tidak disyariatkan. Artinya, kami tidak menyatakan sunnahnya saling menyampaikan ucapan selamat tahun baru hijriyah.

Tetapi jika mereka melakukannya tidak mengapa, namun sepatutnya juga apabila dia mengucapkan selamat tahun baru dengan memohon kepada Allah supaya menjadikannya sebagai tahun kebaikan dan keberkahan, lalu orang lain menjawabnya. Inilah pendapat kami dalam masalah ini yang merupakan perkara kebiasaan dan bukan termasuk perkara ibadah.

(Disampaikan pada pertemuan terbuka ke-93 hari Kamis, 25 bulan Dzulhijjah tahun 1415H).

Pertanyaan 3:

Pada kesempatan lainnya, beliau juga pernah ditanya: Apakah boleh mengucapkan selamat awal tahun baru?

Maka beliau menjawab: Ucapan selamat atas kedatangan tahun baru hijriyah tidak ada dasarnya dari perbuatan para Salafus Shalih. Maka kamu jangan memulainya, tetapi jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu jawablah, karena ini sudah menjadi kebiasaan di tengah-tengah manusia, meskipun fenomena ini sekarang berkurang, karena sebagian orang sudah memahaminya, alhamdulillah. Padahal sebelumnya mereka saling bertukar kartu ucapan selamat tahun baru hijriyah.

Pertanyaan 4:

Pertanyaan lainnya kepada Syaikh Utsaimin: Apa bunyi ucapan yang saling disampaikan manusia?

Beliau menjawab: yaitu mereka mengucapkan selamat atas datannya tahun baru, dan kami memohon kepada Allah mengampuni yang telah berlalu pada tahun kemarin, dan supaya memberikan pertolongan kepadamu untuk menghadapi masa depan atau semacam itu.

Pertanyaan 5:

Syaikh Utsaimin ditanya: Apakah diucapkan “Setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan?”

Beliau menjawab: Tidak, setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan tidak diucapkan dalam Idul Adha maupun Idul Fitri atau di tahun baru.

(Disampaikan pada pertemuan terbuka ke-202 pada hari Kamis, 6 Muharram tahun 1420H).

3. Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah

Beliau pernah ditanya: Syaikh yang mulia semoga Allah memberikan anda taufik. Kebanyakan manusia saling mengucapan selamat tahun baru hijriyah. Apa hukum ucapan selamat tahun baru hijriyah, misalnya: ‘Semoga menjadi tahun bahagia,’ atau ucapan: ‘Semoga kalian setiap tahun dalam kebaikan.’ Apakah ucapan ini disyariatkan?

Syaikh menjawab sbb:

”Ini adalah bid’ah. Ini bid’ah dan menyerupai ucapan selamat orang-orang Kristen dengan tahun baru Masehi, dan ini sesuatu yang tidak pernah dilakukan para Salaf. Selain itu, tahun baru hijriyah adalah istilah para shahabat radhiyallahu anhum untuk penanggalan muamalat saja. Mereka tidak menganggapnya sebagai hari raya dan mereka mengucapkan selamat atasnya karena ini tidak ada dasarnya. Para shahabat menjadikan tahun hijriyah untuk penanggalan muamalat dan mengatur muamalat saja”.

4. Syaikh Abdul Karim Al-Khidhir

Doa kepada sesama muslim dengan doa umum yang lafalnya tidak diyakini sebagai ibadah dalam beberapa peringatan seperti hari-hari raya tidak mengapa, apalagi apabila maksud dari ucapan selamat ini untuk menumbuhkan kasih sayang, menampakkan kegembiraan dan keceriaan pada wajah muslim lain.

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aku tidak memulai ucapan selamat, tapi jika seseorang memulai dengan ucapan selamat maka aku suka menjawabnya karena menjawab ucapan selamat itu wajib. Adapun memulai ucapan selamat tidak ada sunnah yang diperintahkan dan juga bukan termasuk perkara yang dilarang.

KESIMPULAN:

1. Dari beberapa fatwa di atas dapat dipahami bahwa sebagian ulama besar membolehkan menjawab ucapan selamat saja tidak untuk memulainya, namun tidak menganggapnya perkara bid’ah yang besar karena itu adalah adat kebiasaan, bukan diyakini sebagai ibadah yang disyariatkan.

2. Sebaiknya kita menjelaskan kepada umat bahwa hal itu tidak ada dasarnya sehingga mereka tidak berlebih-lebihan dalam ucapan selamat tahun baru hijriyah. Karena hal itu dikhawatirkan bisa terjatuh dalam perkara bid’ah dan menyerupai kaum Nasrani sebagaimana fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah.

3. Kita tidak disyariatkan untuk merayakan tahun baru hijriyah seperti perayaan hari raya (ied), karena perayaan sebagai bentuk ibadah dan ibadah sifatnya tauqifiyah. Wallahu a’lam bis-shawa

Jurnalis Muslim Bentuk Kaukus Wartawan Pembela Syariat Islam

Dalam sebuah pernyataan persnya, sekelompok jurnalis yang tergabung dalam Kaukus Wartawan Pembela Syariat Islam bertekad untuk mengawal pelaksanaan Syariat Islam di Aceh agar berjalan sesuai dengan Qanun Syariat Islam dan Undang-Undang Syariat Islam itu sendiri.

Kaukus ini bukan partai politik, dan bukan ormas. Kaukus ini adalah himpunan wartawan dari berbagai media yang memiliki misi dan visi Islami dalam menjalankan profesinya.

Gerakan ini digagas oleh sejumlah wartawan dari lintas media dan organisasi profesi. Di antaranya Arif Ramdan (Serambi Indonesia/AJI), Azhari (LKBN Antara Biro Aceh/PWI), Yuswardi Mustafa (Prohaba/PWI), Heru Dwi S (LKBN Antara Biro Aceh/PWI), H Ibnu Sa'dan (Hr. Waspada Biro Langsa/PWI), Muhammad Saman (Hr. Analisa/PWI), Muhammad Zairin (Hr. Waspada/PWI), Misbahuddin (Hr. Serambi Indonesia/PWI), Zainal Arifin (Serambi Indonesia/AJI), dan Said Kamaruzzaman (Serambi Indonesia/AJI), Jaka Rasyid (Hr. Waspada/PWI).

Dalam waktu dekat, para penggagas Kaukus akan mendeklarasikan pendirian Kaukus Wartawan Pembela Syariat Islam dengan menggelar muzakarah. Para penggagas berharap semua wartawan lintas media di Aceh dapat bergabung untuk melawan pembodohan yang menyusup ke Aceh dengan menakut-nakuti praktek jurnalistik bebas, dengan isu-isu HAM dan dalih lainnya.

Kaukus akan mengawal pelaksanaan Syariat dari anasir-anasir busuk yang berlindung di balik tema-tema intelektual dan hak azasi manusia. Anasir busuk tersebut sangat berbahaya karena disinyalir berbaju munafik, yang berbicara seakan-akan mendukung syariat, tapi diam-diam menjalakan misi terselubung dari donor-donor asing untuk menghancurkan Islam di Aceh khususnya, Indonesia umumnya.

Kaukus juga akan memberi dukungan kongkrit bagi para ulama, Dinas Syariat Islam Aceh, dan aktifitas Wilayatul Hisbah (WH) dalam memberantas berbagai bentuk maksiat di Aceh. Sebagai wartawan kaukus ini akan memperjuangkan kebebasan pers dan mensinkronkan UU Pers, Kode Etik Jurnalis dengan nilai-nilai Islam sebagai panduan moral wartawan dalam menjalankan tugasnya.

Sesuai dengan namanya, lembaga ini hanya bersifat sementara dan terbatas kepada upaya untuk memberikan semangat kepada jurnalis/wartawan dalam meliput pemberitaan seputar upaya penegakan hukum syariah di Aceh. Lembaga ini akan dibubarkan jika ancaman terhadap penegakan syariat Islam di Aceh dianggap sudah tidak ada lagi.

“Kami sekelompok wartawan yang menjunjung tinggi kebebasan pers dan nilai-nilai syariat Islam, saat ini merasa khawatir dengan upaya sekelompok orang yang terindikasi berusaha mengekang atau melemahkan semangat para pekerja pers, dalam meliput kasus-kasus yang berkaitan dengan upaya penegakan Syariat Islam di Aceh.

Kaukus menilai, tindakan segelintir pihak yang berlindung di balik kode etik dan HAM, sangat bertolak belakang dengan yang diterapkan di negara yang disebut sebagai penjunjung HAM dan kebebasan berekspresi, seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.

Bukti teranyar, pemerintah Amerika Serikat menolak mengadili sutradara, produser, dan aktor/aktris yang terlibat dalam pembuatan film "Innocence of Muslims" yang jelas-jelas menghina Nabi Muhammad SAW, tanpa proses check and rechek kepada Umat Islam.

Meski telah menyebarkan film bohong dan telah menyebabkan demonstrasi mematikan di seluruh dunia, Pemerintah Amerika Serikat tetap menolak mengadili orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film sampah ini. Alasannya adalah melindungi "kebebasan berekspresi".

Atas dasar pemikiran dan fakta-fakta ini, kami sekelompok wartawan yang menjunjung tinggi kebebasan pers dan nilai-nilai syariat Islam, merasa perlu membentuk sebuah lembaga buffer aksi, untuk mendukung kebebasan berbicara dan berekspresi sesuai tuntunan Syariat Islam. Untuk sementara ini, kami sepakat memberikan wadah ini dengan nama "Kaukus Wartawan Pembela Syariat Islam."

“Kami mengajak rekan-rekan wartawan di Aceh yang sepaham, untuk ikut bergabung dalam rangka mendukung penegakan hukum Allah di Tanah Serambi Mekkah ini.”

Pendaftaran bisa dilakukan dengan mengirimkan surat konfirmasi ke email
kaukuspers.islami@journalist.com, dengan menuliskan nama lengkap dan tempat media bekerja. Serta mencantumkan nomor HP untuk kami konfirmasikan lebih lanjut

Mengangkat tangan tidak disyari'atkan dalam khutbah Jum'at

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Pada dasarnya tidak disyari'atkan bagi makmum untuk mengangkat tangan saat khatib Jum'at berdoa dan mengaminkannya dengan suara keras, kecuali dalam Istisqa' (doa meminta hujan). Adapun yang disyariatkan adalah diam mendengarkan khatib dan mengaminkan doanya bagi dirinya sendiri, tanpa mengeraskan suara.

Fatwa Syaikh Ibnu Bazz

Mengangkat tangan tidak disyari'atkan dalam khutbah Jum'at dan tidak pula dalam khutbah 'Ied –bagi imam maupun makmum-. Yang disyariatkan adalah diam mendengarkan khatib dan mengaminkan doanya bagi dirinya sendiri, tanpa mengeraskan suara. Adapun mengangkat tangan tidak disyari'atkan, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah mengangkat kedua tangannya saat khutbah jum'at dan tidak pula saat khutbah 'Ied. Hal ini didasarkan juga pada tindakan sebagian sahabat ketika melihat sebagian umara' mengangkat kedua tangannya saat khutbah Jum'at, mereka mengingkarinya dan berkata, "Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah mengangkat kedua tangannya."

. . . Mengangkat tangan tidak disyari'atkan dalam khutbah Jum'at dan tidak pula dalam khutbah 'Ied –bagi imam maupun makmum-. . .

Benar, apabila beristighatsah dalam khutbah Jum'at untuk meminta hujan, disyari'atkan mengangkat kedua tangan saat istighatsah itu, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengangkat tangannya pada kondisi ini. Karenanya, apabila imam beristisqa' pada khutbah Jum'at atau pada khutbah 'Ied, disyariatkan baginya mengangkat kedua tangannya mengikuti contoh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Fatwa Syaikh al-Utsaimin

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata: "Mengangkat tangan ketika berdoa saat khutbah hanya disyari'atkan pada saat do'a istisqa' (meminta hujan) saja, berdasarkan hadits Anas bin Malik radliyallah 'anhu. Karenanya, apabila Imam berdoa untuk meminta hujan dengan berkata: "Ya Allah turunkanlah hjan kepada kami, Ya Allah tolong kami," Pada saat ini kedua tangan diangkat –khatib dan para hadirin sama-sama mengangkat tangan-. Dan pada kondisi selain itu, tidak disyari'atkan mengangkat tangan, baik bagi imam atau makmum. Karena inilah, para sahabat mengingkari Bisyr bin Marwan ketika mengangkat kedua tangannya saat berdoa dalam khutbah Jum'at. Dan imam ketika berdo'a hanya disyari'atkan untuk memberikan isyarat (menunjuk) ke atas, kepada Dzat yang dituju dalam doa, yaitu Allah Tabaraka wa ta'ala. Wallahu a'lam.

Indonesia Akan Dipimpin Oleh Pemimpin Pendendam?

Kalau benar nanti di pemilihan presiden 2014, dukungan terhadap Ketua Umum PDIP, Megawati Sukarno Putri itu konstan, kemungkinan besar Megawati akan terpilih menjadi presiden.

Entah faktor dan variabel apa yang menyebabkan dukungan rakyat terhadap Mega menjadi tinggi? Karena, selama menjadi presiden tahun 2000-2004, tak ada prestasi yang menonjol selama pemerintahannya.

Rakyat hanya tersihir atau tersugesti Megawati anak Bung Karno. Apakah Mega anak biologis atau ideologis Bung Karno itu, tidak menjadi soal?

Tetapi, rakyat Indonesia, yang sebagian besar (75%) hanya lulusan SD itu, sangat mudah digiring opini, dan akalnya belum begitu jalan, serta ditambah masih sangat percaya dengan "klenik" alias "kejawen" yang begitu kental. Megawati selalu diidentikkna sebagai titisan "Ratu Adil".

Munngkin salah satu faktor atau variabel Megawati menjadi alternatif dan "moncer" lagi, karena pemerintahan Presiden SBY, sudah begitu bau menyengat di hidung setiap rakyat Indonesia, bau busuk korupsi. Pemerintahan SBY sekarang tak bisa dilepaskan dari korupsi, dan dikaitkan dengan Partai Demokrat, yang sudah sangat sarat dengan korupsi.

Sebenarnya, kalau mau mengedepankan "commonsense" (akal sehat), melalui Ketua Dewan Pembinanya SBY, sudah harus mengibarkan bendera "putih", dan memohon maaf kepada seluruh bangsa Indonesia, kemudian Partai Demokrat, dimasukkan kotak. Tidak lagi harus terus berkutat dengan berbagai rekayasa, yang terus menerus ingin mempertahankan Partai Demokrat, dan mempertahankan para tokohnya yang sudah terindikasi korupsi.

Tetapi, tidak ada jaminan kalau jabatan presiden Indonesia itu, pindah tangan dari SBY ke Mega, kemudian kondisi dan keadaan lebih baik. Karena, sudah terbukti secara faktual, selama tahun 2000-2004, di bawah Presiden Megawati, Indonesia tak dapat keluar dari krisis, dan korupsi semakin kronis, serta banyak kader PDIP yang masuk bui.

Apalagi, kalau dilihat dari hasil pengelolaan pemerintahan, tak ada yang menggemberikan dari indikator ekonomi makro, seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, kurs mata uang, dan kebijakan fiskal, serta tingkat kesejahteraan rakyat dan petani, tak ada perubahan yang signifikan.

Hal ini, bisa dibuka kembali dokumen-dokumen selama pemerintahan Presiden Megawati. Justeru yang terjadi penjualan asset negara secara besar-besaran, melalui Meneg BUMN, Laksamana Sukardi, selama periode pemerintahannya.

Asset negara habis diobral dengan harga yang dibanting, sekarang yang ada tinggal ampasnya belaka. Termauk Megawati menandatangi kontrak penjualan gas (Gas Tangguh) dengan pemerintahan Cina, yang harganya yang dipatok, yang merugikan miliaran dollar.

Tentu, yang paling menyolok, sikap Megawati yang sangat "pendendam" yang terus melekat di dalam dirinya. Sepertinya, tak pernah bisa hilang dari dalam diri Mega. Mega merasa dikhianati oleh SBY, saat SBY menjadi Menko Polkam, dan kemudian bersama dengan Jusuf Kalla, meninggalkan Mega, yang belum selesai pemerintahannya, kemudian kedua tokoh mencalonkan diri menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden di pemilihan presiden 2004.

Karena itu, sampai hari ini Mega tak mau bertemu dengan SBY, dan bahkan berulang kali ajakan SBY, melakukan koalisi dengan PDIP, selalu Mega menolaknya. Berbagia upaya pendekatan yang dilakukan oleh SBY, lewat Taufik Kemas, maupun Hatta Rajasa, tak pernah bisa mengubah sikap Mega, yang masih masygul terhadap SBY, yang meninggalkannya di tahun 2004.

Selanjutnya, Mega yang sudah disakiti oleh SBY di tahun 2004, selama pemerintahan SBY, selama dua periode, antara tahun 2004-2014, Mega terus mengambil sikap oposisi terhadap SBY. Tidak mau melakukan pembicaraan politik, dan dialog politik, dan Taufik Kemas, yang menjadi mediasi pun, gagal merujukkan kedua tokoh itu, Mega-SBY.

Megawati masih sangat power full memegang dan mengendalikan PDIP. Jika melihat trend (kecenderungan) di internal dan dukungan rakyat yang ada, kemungkinan Megawati akan maju lagi di tahun 2014. Mungkin akan melepaskan diri dari Prabowo, dan mengerek Jokowi yang sekarang digambarkan sebagai manusia paling "ajaib", sebagai wakilnya.

PDIP yang baru saja usai melakukan Rakernas di Surabya, sudah mengancang strategi politik, yang akan menggulung seluruh kekuasaan di tanah Jawa, yang menjadi gudang suara bagi partai politik.

Kemenangan Jokowi/Ahok di DKI, diperhitungkan akan menjadi virus yang akan terus ditularkan di daerah lainnya, dan menguasai seluruh tanah Jawa. Dengan menggenggam tanah Jawa, kemungkin PDIP berharap dapat memenangkan pemilihan presiden nanti.

Seperti hasil Survey Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebutkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memperoleh elektabilitas dukungan tertinggi untuk kandidat calon presiden 2014. Anak kandung proklamator Soekarno itu memperoleh dukungan sebesar 18,3 persen.

Sementara tempat kedua dan ketiga, masing-masing diduduki Prabowo Subianto (18 persen) dan Aburizal Bakrie (17,5 persen).

"Hal ini memang tidak terlepas dari kepopuleran Ibu Megawati sebagai mantan Presiden dan juga mantan Capres beberapa kali. Selain itu, karena ketokohan beliau tentunya," ujar peneliti LSI, Adjie Alfaraby, dalam keterangan persnya di Kantor LSI, Jakarta, Ahad (17/6).

Pasca 2014, Indonesia masih berkutat diantara tokoh-tokoh yang sudah usang, dan tidak kredibel lagi. Hanya dipoles-poles media, yang memang ingin mempertahankan kalangan nasionalis-sekuler, yang tujuannya menutup peluang kalangan Islam menjadi alternatif masa depan.

Ini sebuah rekyasa dan konspirasi politik yang akan terus berjalan di masa depan.

Sementara itu, tokoh-tokoh Islam, yang ada tak begitu nampak bisa menampilkan sosok tokoh bagi masa depan Indonesia. Mereka rata-rata miskin kapasitas, dan miskin integritas, dan keberpihakan kepada rakyat. Sehingga, tidak ada tokoh Islam, yang bisa menjadi alternatif bagi solusi masa depan Indonesia.

Tak heran yang akan muncul di masa depan tokoh seperti Mega, yang sebenarnya bukan tipologi negarawan. Karena, karakternya yang penuh dengan dendam.

Betapapun, Mega yang marah dengan SBY, seharusnya tidak menolak undangan SBY, yang mengundangnya ke Istana, memperingati Proklamasi Kemerdekaan, yang pernah dipidatokan oleh Bung Karno, bapaknya sendiri. Justeru Mega menyelenggarakan peringatan Proklamasi di kantor PDIP di Lenteng Agung. Wallahu'alam.

Bagaimana Cara Media Kristen dan Sekuler Menghancurkan Islam?

Begitu luar biasa gencarnya media kristen dan sekuler membuat opini yang sangat destruktif terhadap Islam dan umat Islam. Tujuannya hanya bagaimana membuat phobia dikalangan bangsa Indonesia yang 240 juta penduduknya, dan 85 persen beragama Islam.

Pertama, media kristen dan sekuler, secara konsisten dan terus-menerus mengangkat tentang toleransi dan pluralisme.

Media kristen dan sekuler secara konsisten dan terus menerus memberikan "covered" terhadap kelompok-kelompok yang diberi lebel sebagai moderat. Kelompok moderat itu, mendapatkan pencitraan sebagai kelompok yang sangat toleran dan berpaham inklusif.

Di sisi lain, media kristen dan sekuler itu, secara konsisten dan terus-menerus menciptakan opini, kelompok-kelompok yang ingin mengupayakan tegaknya nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam, kemudian diberi lebel sebagai militan, fundamentalis, ekstrim, dan tidak toleran.

Kemudian, kelompok yang ingin menegakkan nilai-nilai Islam itu, diberi sebagai kelompok yang anti toleransi dan eksklusif, dan umat didorong menjadikan kelompok yang ingin menegakkan nilai-nilai Islam itu, bukan hanya eksklusif, tetapi membahayakan keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), serta bhineka tunggal ika.

Langkah berikutnya, melakukan adu-domba antara kelompok moderat dengan kelompok fundementalis yang dianggap ekstrim, secara terbuka.

Adu domba itu, tujuannya hanya satu menghancurkan dan melemahkan pengaruh kelompok-kelompok yang dituduh fundamentalis.

Sehingga, terbentuk opini yang bersifat menyeluruh bahwa Islam fundamentalis dan kelompok militan itu, sangat tidak toleran, dan membahayakan persatuan bangsa, serta keutuhan negara.

Media kristen dan sekuler menghancurkan kalangan Islam dan kelompok yang dituduh fudamentalis itu, menggunakan cara yang sangat sistmatis dan terencana secara rapi. Penghancuran itu dilakukan secara gradual (bertahap), tetapi mempunyai dampak jangka panjang yang sangat serius, terutama terkait dengan kepercayaan umat dan bangsa terhadap nilai-nilai Islam sebagai sistem nilai.

Media kristen dan sekuler itu, menghancurkan Islam dan umat Islam dengan menggunakan : "pikiran", "mulut", dan "tangan", orang Islam sendiri. Tentu, yang paling terkenal, dan paling hafal mereka itu, menggunakan teori atau tehnik, "war by proxy", perang dengan menggunakan tangan orang Islam sendiri, guna menghancurkan umat Islam.

Seperti dalam menggalang opini yang bertujuan menghancurkan kalangan fundamentalis itu, media kristen dan sekuler itu, menggunakan tokoh-tokoh Islam, tokoh-tokoh ormas Islam, tokoh lembaga pendidikan Islam, yang dipandang memeliki legitimasi yang kuat di mata masyarakat. Sehingga masyarakat percaya dan seakan meyakinkan, bahwa tokoh yang menghantam mereka yang dituduh fundamentalis itu, mereka tokoh yang benar dan jujur.

Media kristen dan sekuler itu, mereka menggunakan tokoh yang berasal dari kampus semacam UIN, yang dahuulunya dikenal dengan IAIN, yang berpikiran sekuler.

Tetapi, karena dikalangan awam, banyak tidak tahu, bahwa Universitas semacam UIN itu, sejatinya menjadi gudangnya pemikir-pemikir sekuler, produk pendidikan Barat, tetapi dikalangan umat masih dipandang memiliki kapasitas, dan legitimasi guna berbicara atas nama Islam, atau menganggap pemikir Islam. Padahal, tidak ada sedikitpun yang mereka sampaikan itu, dapat dikatakan mewakili kepentingan Islam dan umat Islam.

Media kristen dan sekuler dengan sangat pandainya memainkan kartu "cendekiawan muslim", yang diberi covered begitu hebat, seperti Nurcholis Madjid, Muslim Abdurrahman, Abdurrahman Wahid, Syafi'i Maarif, Said Agil Siraj, Bachatiar Effendi, Azzumardy Azzra, Johan Effendi, Utomo Dananjaya, Ahmad Wahib, Abdul Mukti, dan sejumlah tokoh lainnya, yang terang-terangan sudah menelanjangi prinsip Islam sebagai "cendekiawan muslim".

Tokoh-tokoh seperti itu yang banyak pernyataannya dikutip melalui laporan khusus, wawancara, dan berbagai pendapat, yang digunakan sebagai "war by proxy", menggebuki mereka yang dianggap fundamentalis. Tentu, yang paling terkenal sepanjag sejarah Republik ini, pernyataan Nurcholis Madjid, yaitu "Islam Yes, Partai Islam No". Pemikiran Nurcholis Madjid inilah yang sampai sekarang terus bergema.

Pernyataan Nurcholis itu, tak lain, hanyalah menguatkan posisi rezim Orde Baru, yang dipimpin Soeharto di awal pemerintahannya, yang baru tahap konsolidasi. Pernyataan Nurcholis Madjid, yang sangat sekuler itu, sesungguhnya menjadi bagi media kristen dan sekuler, terutama bagi menggebuk para kelompok Islam politik.

Media Kristen dan sekuler itu, menghadapi kalangan fundamentalis, yang sudah masuk dalam "red notice", kelompok-kelompok yang sudah dianggap bagian dari gerakan radikal, yang menggunakan senjata, alias "teroris", maka kelompok media kristen dan sekuler, mereka menggunakan "tokoh-tokoh" yang alumni dari pesantren yang dicap sebagai gudangnya teroris.

Tetapi, tokoh-tokoh yang menjadi alumni pesantren gudangnya toreris itu, sesungguhnya tokoh sudah kehilangan integritas, sudah murtad, dan karena sejatinya mereka itu, orang upahah aparat keamanan, yang digunakan membentuk opini negatif terhadap kelompok-kelompok yang dituduh teroris.

Tentu, sangat memprihatinkan sekali, umat Islam di mana saja, seperti di Solo, Ambon, Poso, yang sudah menjadi korban tindakan semena-mena aparat, tidak ada satupun kalangan tokoh Islam, yang berani mengangkat dan berbicara tentang masalah penzaliman itu. Seakan kalau sudah diberikan lebel teroris itu, sudah sifatnya "given" kalau dibunuh atau ditembak oleh aparat keamanan.

Maka, sekarang ini yang ada hanyalah tokoh-tokoh Islam yang sudah "koplo" alias "dayus", karena otak mereka sudah dicuci habis oleh media kristen dan sekuler, sampai tak berani lagi mengatakan, "Isyhadu bi anna muslimun".

Mereka tidak berani menyatakan jati dirinya, tidak berani lagi menyatakan dirinya sebagai pejuang penegak Islam. Mereka telah dihinggapi penyakit wahn, di mana mereka telah mengalami "collective fears" (ketakutan massal). Mereka seperti melihat hantu disiang bolong. Sembari mulutnya komat-kamit membuat mantera bagi legitimasi rezim yang zalim itu.

Umumnya, tokoh-tokoh Islam itu perutnya sudah kenyang, tak berani lagi melawan kemungkaran, dan terlalu banyak menikmati yang haram dan subhat, dan bergelimang dengan kehidupan duniawi. Maka Allah Azza Wa Jalla mencabut dari dada mereka sifat sajaah, dan yang ada hanya sikap yang menjad pembebek.Wallahu'alam.

Demokrasi, Kematian, dan Kehancuran

New York (voa-Islam.com) Bayangan situasi keamanan global akan semakin memburuk, bersamaan dengan hasil pemilu di Amerika Serikat. Seandainya calon dari Partai Republik, Mitt Romney mengungguli Presiden Barack Obama.

Ini artinya Mitt Romney yang menjadi tokoh baru di Gedung Putih, sudah dapat diprediksi akan menjalankan pola kebijakan luar negeri bergaya "cowboy" seperti Presiden George Buh. Berbagai kawasan akan terjerumus ke dalam perang, termasuk kawasan Teluk.

Mitt Romney yang terang-terangan mendukung Zionis-Israel, selanjutnya akan menggunakan seluruh kekuatannya mendukung Zionis-Israel. Jajak pendapat menunjukkan kalangan Yahudi Amerika dan Israel, hampir mayoritas 85 persen memberikan dukungannya kepada Mitt Romney.

Gedung Putih akan menjalankan seluruh kepentingan Zionis-Israel, khususnya dalam rangka melakukan deteren (penghancuran) terhadap kekuatan-kekuatan yang akan menjadi ancaman Zionis-Israel. Situasi global akan mengalami perubahan secara dramatik, bila Mitt Romney menduduki Gedung Putih. Inilah sebuah situasi dramatis yang dihadapi dunia secara global.

Laporan ABC News, semula menunjukkan bahwa Presiden Barack Obama ketinggalan oleh Mitt Romney. Dengan hitungan Obama baru mengumpulkan 157 electoral college, sedangkan Mitt Romney sudah mengumpulan 164 electeroal college. Meskipun, angka ini masih kemungkinan dapat berubah. Setiap pemenang harus mengumpulkan 270 electoral college untuk menang.

Mitt Romney akan melakukan pendekatan "hawk" (elang), terhadap negara-negara dan kelompok yang dianggap menjadi ancaman bagi Amerika Serikat dan Israel. Mitt Romney juga tidak akan pernah memberikan ruang bagi lahirnya negara Palestina berdaulat. Amerika Serikat di bawah Mitt Romney juga akan membela kepentingan keamanan Israel. Berapapun harga yang harus dibayar.

Mitt Romney akan menggunakan seluruh kekuatan yang dimiliki Amerika Serikat menghadapi kelompok-kelompok teroris di seluruh dunia, terutama di dunia Islam, yang dianggap menjadi bibit-bibit ancaman keamanan global. Mitt Romney akan menggunakan sekutunya yang masih loyal, menghadapi kekuatan yang ditutudh sebagia militan, fundamentalis, ekstrimis, dan teroris, yang sekarang menyebar di berbagai kawasan. Ini akan membawa resiko semakin melabarnya setiap kawasan.

Mitt Romney akan membawa Amerika Serikat kepada perang dingin, seperti dekade tahun l980 an. Konsekuensi ini, Gedung Putih harus mengeluarkan anggaran besar-besaran mendukung anggaran pertahanan yang selama Presiden Barack Obama sudah dipangkas. Dengan demikian, situasi keamanan global akan semakin kacau, dan menimbulkan konflikasi yang sangat luas, akibat kebijakan luar negeri Mitt Romney yang sangat agresif.

Betapa demokrasi model Amerika Serikat yang mahal itu, tak dapat mengubah kehidupan rakyat Amerika Serikat, yang kini suda tenggalam dalam krisis ekonomi dan menghadapi bencana yang sangat hebat. Badai Sandy yang meluluh-lantakkan New York, dan sepanjang pantai utara Amerika itu, sekarang mamasuki hari-hari yang lebih dramatis lagi. Menjelang musim dingin.

Berjuta-juta rakyat Amerika Serikat, masih dalam kondisi yang sangat kritis akibat badai Sandy, dan sekarang sudah memasuki musim dingin, dan kembali badai, serta hujan turun, serta pasangnya air laut, yang akan menggenangi seluruh pantai utara Amerika.

Demokrasi model Amerika yang sangat mahal itu, dan dianggap sangat ideal, dan penuh dengan liku. Untuk menjadi calon seorang calon presiden, pertama harus memenangkan general pramary di internal partainya. Seperti Partai Demokrat, saat menentukan Barack Obama atau Hallary Clinton, harus berlangsung pemilihan ke seluruh negara bagian, dan berlangsung selama satu tahun.

Pertarungan memperebutkan tiket ke Gedung Putih antara Hallary dan Barack Obama itu berlangsung satu tahun. Baru Obama maju menjadi calon presiden Amerika Serikat, melalu sebuah konvensi. Sesudah itu, baru pemilihan presiden antara calon Republik dan Demokrat. Masing-masing kampanye itu berlangsung selama satu tahun.Sungguh sangat melelahkan.

Namun, kekuasaan di Gedung Putih, yang sejatinya hanyalah bayang-bayang (shadow) dari tangan-tangan Iluminati alias Zionis, hanya menjadi "proxy" (tangan) yang digunakan menghancurkan kekuatan-kekuatan entitas diluar Yahudi atau kelompok Iluminati alias Zionis. Gedung Putih itu, tak lain, markas kaum Ilumati dan Zionis, yang akan menghancurkan dunia. Dengan kekuatan militer, ekonomi, budaya, dan teknologi mereka.

Presiden Amerika Serikat itu, yang dimenangkan melalui proses pemilihan yang sangat melelahkan dan panjang itu, hanyalah bagian dari sisi sandiwara yang dibuat menjadi sebuah tontonan bagi masyarakat dunia. Pendidikan demokrasi ala Iluminati dan Zionis melalui pemilihan presiden Amerika Serikat itu, benar-benar sangat memukau. Di mana pemilihan presiden di Amerika Serikat itu, mendapatkan liputan "covered" media di seluruh dunia.

Amerika Serikat itu seakan menjadi "miniatur" besar yang diciptakan oleh rezim Iluminati dan Zionis, di mana masyarakat dunia diperintahkan untuk mengikuti (beritiba') kepada demokrasi model Amerika Serikat. Di mana demokrasi itu, sudah menjadi sangat ideologis, dan kekuatan yang tidak mengikuti (beritiba') kepada sistem demokrasi itu, dianggap diluar mainstream (arus utama), dan harus diperangi. Maka, sekarang tidak ada yang tidak terjebak oleh sistem dan cara yang dibuat oleh rezim Iluminati dan Zionis itu.

Karena itu, sejatinya demokrasi itu, adalah sebuah alat yang diciptkan oleh kaum Iluminati dan Zionis mengendalikan dan mengarahkan rakyat dunia dengan kekuatan modal yang mereka. Kaum Iluminati dan Zionis itu, tujuannya hanya ingin memperbudak dan menguasai asset dan rakyat di dunia. Kaum Iluminati dan Zionis itu, bertujuan bagaiman manusia diluar entitas mereka, yang disebut "goyyim" (kafir) itu, hanya berhak menjadi budak, dan menjalankan perintah mereka.

Bagaimana para pemilik modal atau kaum kapitalis yang sesungguhnya mereka tidak lain kaum Iluminati dan Zionis itu, yang berasal dari darah keturunannya Rothschild dan Rockyfeller yang akan berusaha terus menguasai dunia, dan memperbudak ras-ras di luar ras Yahudi. Semuanya berjalan dengan sangat terencana dan sistematis.

Maka siapa saja yang menjadi penguasa di Gedung Putih, mereka itu adalah para "proxy" (tangan) Iluminati dan Zionis yang bertujuan menciptakan kematiaan, kehancuran melalui demokrasi. Mereka yang gagap dan menjadi sangat takjub dengan permainan Iluminati dan Zionis melalui cara suguhan demokrasi itu, maka sejatinya mereka hanya akan masuk ke lubang kematian dan kehancuran.

Buktikan, Indonesia sejak reformasi, kondisi bukan semakin baik, tetapi justeru menuju kehancuran. Kebebasan yang tanpa batas, melanda kehidupan dan terus berjalan sampai ke jantung kehidupan masyarakat. Budaya kebebasan dan materialisme sudah merasuk ke sungsum bangsa Indonesia. Dengan kebebasan itu, bangsa ini telah terjebak dan meniru Barat, akhirnya menuju skenario yang paling buruk, yaitu kehancuran.

Mulai zaman Soeharto, penguasa ini telah menyerahkan tambang emas Freeport, yang sudah berlangsung puluhan tahun kepada rezim Iluminti dan Zionis. Penguasa Freeport, Mc Moran, dan dilanjutkan oleh generasi SBY, yang sudah memberikan sesaji kepada rezim Iluminati dan Zionis, seperti Exxon di Blok Cepu, dan sekarang SBY akan memberikan kepada BP (British Pretroleum), pengelolaan gas di Papua.

The Seven Sisters (tujuh bersaudara) merupakan perusahaan minyak dan gas raksasa, yang beroperasi di seluruh dunia, adalah bagian dari kekuatan rezim Iluminti dan Zionis,yang mengeksploitir sumber daya alam (SDA), termasuk Indonesia bagi kepentingan industri dan ekonomi Barat, yang sudah dibawah kendali rezim Iluminati.

Sungguh melalalui pemilihan dan demokrasi rezim Iluminati menciptakan rezim kaki tangan alias budak, yang digunakan menjajah dan menguasai sumber daya alam (SDA) di setiap negara.

Partai politik, pemilu, dan anggota parlemen, merupakan trilogi, yang kemudian menciptakan kekuasaan, dan kekuasaan itu akan digunakan oleh rezim Iluminati dan Zionis, guna memperbudak dan menjajah rakyat setiap negara, serta mengeruk sumber daya di negeri itu. Pantaslah, negara-negara di dunia Islam, bukan semakin maju, ketika mengikuti sistem demokrasi, tetapi semakin hancur.

Persis di zaman VOC, di mana Jan Pieterzoncoen, yang tak lain tokoh Iluminati Belanda, yang ikut menumpang kekuatan militer Belanda, dan kemudian menjajah dan menguasai asset negara, dan membuat miskin kaum pribumi, serta menciptakan elite yang menjadi kaki tangan Iluminati dan Zionis, dan memperbudak rakyat di negeri itu. Selama 350 tahun, dan dilanjutkan sampai hari ini. Wallahu'alam.

Amerika Serikat Mempersiapkan Perang Total Melawan Dunia Islam

Seperti dilansir oleh BBC, Jum'at lalu, akhirnya tokoh-tokoh militer Amerika Serikat membuka kedoknya sendiri. Di Akademi militer Sekolah Staf Gabungan Angkatan Bersenjata di Norfolk, Virginia, mereka sedang mempersiapkan pemimpin masa depan. Jenis pemimpin masa depan Amerika Serikat itu, yang akan melakukan perang total melawan 1,4 miliar Muslim diseluruh dunia.

Para pemimpin militer Amerika Serikat itu, tidak ada lagi terminologi dalam benak mereka yang disebut Islam moderat. Semua penganut Islam, dipandang oleh mereka sebagai ancaman bagi Amerika Serikat. Inilah pandangan para pemimpin militer dan politik di masa depan Amerika Serikat, yang sekarang ini dipersiapkan di Akademi Militer - Sekolah Staf Gabungan Angkatan Bersenjata di Norfolk, Virginia.

Ancaman masa depan bagi keamanan Amerika Serikat, bukan lagi kelompok-kelompok bersenjata, teroris, jihadis, dan kaum ekstrimis. Tetapi semua penganut atau pemeluk Islam dipandang sebagai ancaman, yang sangat membahayakan keamanan Amerika Serikat. Menghadapi ancaman ini, para pemimpin masa depan Amerika Serikat itu, bahkan dibolehkan meninggalkan konvensi Jenewa, di mana dibolehkan menyerang sasaran sipil. Tidak lagi dipedulikan.

Letnan Kolonel Mattew Dooley, salah satu tokoh militer, yang mengajar di Sekolah Staf Gabungan Angkatan Bersenjata di Norfolk itu, menggambarkan perang total, bahkan para pemimpin baru Amerika yang sedang dididik di Norfolk itu, disuguhi sebuah opsi menggunakan bom atom, yang akan digunakan memusnahkan kota-kota di negeri-negeri Muslim di seluruh dunia.

Mattew Dooley, tak kurang-kurang, begitu sangat luar biasa ketakutannya terhadap dunia Muslim, serta harus memusnahkan kota Maakkah dan Madinah, yang dipandang sebagai ‘episentrum’ (pusat) ancaman terhadap Amerika Serikat.

Makkah dan Madinah yang setiap tahun dikunjungi jutaan orang berkumpul, dan melaksanakan ibadah haji itu, harus direduksi (dihancurkan), agar tidak lagi menjadi tempat berkumpulnya Muslimin di seluruh dunia. Bahkan, Amerika Serikat akan menggunakan bom atom, seperti ketika Amerika Serikat menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki dalam Perang Dunia II.

Betapapun, Saudi Arabia, pemerintahannya sudah tunduk dibawah pengaruh Amerika Serikat, tetapi para pemimpin militer Amerika Serikat, masih menempatkan posisi Arab Saudi, tetap menjadi sumber ancaman keamanan nasional Amerika. Arab Saudi yang disebut sebagai sumber lahirnya faham ‘Wahabi’ itu, dalam persepsi para pemimpin Amerika adalah ancaman yang sangat menakutkan.

Tidak ada pilihan lain, dibenak para pemimpin Amerika Serikat, yang sekarang sedang dipersiapkan di Sekolah Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika itu, kecuali menghancurkan secara total. Menghancurkan dengan menggunakan kekuatan nuklir. Inilah sebuah skenario masa depan yang sedang dipersiapkan terhadap dunia Islam oleh Amerika Serikat.

Para pemimpin masa depan Amerika Serikat itu, hanya melihat satu pilihan, yaitu menggunakan kekuatan militer, menghadapi kekuatan 1,4 miliar Muslim, yang menyebar di seluruh dunia. Amerika Serikat akan menggunakan kekuatan militer yang dimilikinya, mereduksi atau mengeliminasi (menghapus) ancaman secara total dari Muslim di seluruh dunia, yang dipandang sebagai ancaman masa depan Amerika Serikat.

Pandangan ini sudah lama, dan dimulai ketika Presiden George Bush, mendeklarasikan perang ‘war on terror’, usai peristiwa 11 September 2001, yang dimaksudkan permakluman perang terhadap dunia Islam. Kemudian, Amerika Serikat melakukan invasi (pendudukan) militer ke Afghanistan dan Irak. Perang dengan segala implikasinya yang melibatkan sekutu-kutunya.

Para pemimpin Amerika Serikat, banyak dipengaruhi kelompok ‘Neo-kon’ (Neo-konservatif), gabungan antara kelompok ‘hawk’ (elang), yang merupakan kumpulan tokoh garis keras dari Yahudi dan Kristen, yang telah mengumandangkan perang dingin sejak zamannya Soviet. Mereka inilah yang mendorong Bush melakukan invasi militer ke Afghanistan dan Irak.

Usai perang dingin menghadapi Soviet, mereka sekarang mengarahkan ancaman itu kepada dunia Islam. Islam dipandang sebagai ancaman baru bagi Amerika Serikat. Eskalasi perang terus berlangsung di seluruh dunia Islam. Di Asia, Timur Tengah, dan Afrika, yang melibatkan operasi milirter besar-besaran Amerika, hingga hari ini. Inilah warisan kelompok 'Neo-kon' yang terus berlangsung, dan terus mengemundangkan perang terhadap dunia Islam.

Generasi baru yang merupakan pembawa misi kelompok ‘Neo-kon’ itu, terus melanjutkan misi mereka. Mereka melakukan regenerasi, terutama ditubuh militer Amerika Serikat. Tokoh-tokoh baru dikalangan militer Amerika Serikat ini,diharapkan akan mewarisi kepemimpin masa depan Amerika Serikat, yang akan menghadapi ancaman masa depan, khususnya dari dunia Islam.

Letnan kolonel Mettaw Dooley telah mempersiapkan kepemimpinan baru di lingkungan militer Amerika Serikat yang akan membawa misi penyelamatan bagi masa depan Amerika Serikat dengan mengobarkan perang total melawan 1,4 miliar Muslim di seluruh dunia.

Nampaknya, para pemimpin militer Amerika Serikat tidak memiliki pilihan, kecuali harus melakukan perang total terhadap dunia Islam. Dalam persepsi para pemimpin Amerika Serikat, Islam dan Muslim tetap menjadi ancaman keamanan mereka. Mereka tidak ada lagi terminologi Islam moderat atau fundemantalis, semua Muslim dipandang sebagai ancaman.

Sikap dan persepsi para pemimpin baru Amerika Serikat ini, justru akan menciptakan situasi ketidakstabilan terhadap keamanan dunia. Amerika Serikat menciptakan perang dingin baru, persis seperti ketika Amerika Serikat menghadapi Soviet, yang dipandang menjadi ancaman keamanan global bagi Amerika Serikat.

Bersiap-siaplah kaum wahai Muslimin menghadapi ancaman baru para pemimpin militer Amerika Serikat, yang membuat skanerio perang global itu.

Inilah kesempatan meraih pahala sebesar-besarnya dari Allah Azza Wa Jalla, yaitu kemuliaan disisi-Nya, dan surga-Nya. Tak ada jalan lain, menghadapi ancaman Amerika Serikat itu, kecuali dihadapi dengan memohon pertolongan dari Allah Rabbul Alamin. Wallahu’alam

Hussein Peluk Islam karena Niat Tulus

Saat yakin tentang ajaran Islam, Hussein Abdulwaheed Amin tak ingin menjadi muslim karena hubungan asmara.

Tapi ia mengakui pernikahannya itu menjadi awal ketertarikannya terhadap Islam. Pada akhirnya, hubungannya gagal pada 2001.

Meski begitu, ketertarikannya terhadap Islam tidak goyah sedikit pun. "Saya menjadi muslim karena niatan tulus. Agama, Tuhan terlalu penting untuk dianggap remeh," kata seperti disitat Arabnews.com.

Ketulusannya itu mengubah pandangannya tentang Islam. Ia menyayangkan Islam dipandang sebagai agama penuh kebencian. Padahal, pandangan itu lahir dari kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam.

"Anda tahu, ekstrimis itu secara tidak langsung membuat masyarakat internasional memahami ajaran Islam," tegasnya mengakhiri.

Baca sebelumnya:

Hussein: Islam Puaskan Saya Secara Intelektual & Teologis

Hussein: Islam Mutlak Ajarkan Keesaan Tuhan
Redaktur: Karta Raharja Ucu
Reporter: Agung Sasongko
Sumber: Arabnews.com
4.894 reads
KAMPUS ENTREPRENEUR
Dari Sahl bin Sa'ad bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:"Manusia akan tetap dalam kebaikan slama mereka menyegerakan berbuka." (Muttafaq 'alaih)

Isi Komentar
Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
Terpopuler

HARI INI
MINGGU INI

Jokowi: Waktu Jadi Inspektur Upacara, Keliru Semuanya
8.886 views
Ratusan Taksi di London Promosikan Indonesia
5.901 views
Hussein Peluk Islam karena Niat Tulus
4.881 views
Jokowi akan Jadi Motivator?
4.488 views
Tiga Mortir Suriah Mendarat di Israel
3.570 views

NEWS IN PICTURE
In Picture: Tiga Pemain Naturalisasi Ikut Latihan Timnas In Picture: Usai Dihantam Badai Sandy, Kini Giliran Badai Nor'easter Menerjang Kota New York In Picture: Pertamina Ekspor Pelumas ke Swiss dan Afrika Selatan In Picture: Dua Kecamatan di Jakarta Utara Rawan Terserang DBD In Picture: SBY Buka Bali Democracy Forum 2012

In Picture: Pertamina Ekspor Pelumas ke Swiss dan Afrika Selatan

12345
Video Republika
Jokowi: Waktu Jadi Inspektur Upacara, Keliru Semuanya
Jokowi: Waktu Jadi Inspektur Upacara, Keliru Semuanya
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Banyak nya pemimpin daerah atau calon pemimpin daerah dari berbagai instansi pemerintahan dari kalangan artis atau bukan seorang...
JK, Tentang Seorang Calon Pemimpin Daerah yang Ideal
Video:
JK, Tentang Seorang Calon Pemimpin Daerah yang Ideal
Nil Maizar Ungkap Persiapan dan Taktik Timnas Jelang Piala AFF
Video:
Nil Maizar Ungkap Persiapan dan Taktik Timnas Jelang Piala AFF
ROL
ABOUT US | TERM OF USE | PRIVACY POLICY | CAREER
© REPUBLIKA.co.id - All rights reserved
Facebook | Twitter
Close

Kematian dilukiskan bak antrian dalam wawancara sebuah pekerjaan

Hidup selalu menghadirkan dua sisi yang tidak dapat terelakkan, yaitu kebahagiaan dan kesedihan. Dua sisi itu Allah hadirkan sebagai bagian dari fase kehidupan.

Kesedihan yang terkadang membuat hidup tak nyaman, juga bahagia yang tak selalu menjadi kawan. Inti dari fase kehidupan itu adalah pendakian hidup yang senantiasa bermuara pada momen tak terbantahkan: kematian.

Kematian dilukiskan bak antrian dalam wawancara sebuah pekerjaan. Ia seolah hanya tinggal menunggu panggilan, sesuai urutan. Saat malaikat Zabaniyah datang tanpa undangan, jiwa dan raga pun tercabik, tertarik, tercekik, tiada kawan, hanya Tuhan sebagai sumber pertolongan.

“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, pasti akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui, yang ghaib dan yang nyata lalu dia berikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,” (QS Al-Jumuah: 8)

Cerminan dahsyatnya kematian seharusnya menjadi bahan renungan untuk tiap insan. Betapa kita benar-benar putus harapan saat kematian ada di hadapan. Kekayaan, jabatan, pasangan hidup nan menawan, dan segala hasrat keduniawian sirna saat panggilan itu menimpa kita secara tiba-tiba.

Semua yang bernyawa akan merasakan mati, begitu firman Allah mengingatkan kita dalam QS Al-Ankabut ayat 57. Pun Rasulullah SAW. juga menghadapi kematian merasakan sakitnya sakaratul maut.

Kematian Rasulullah dilukiskan Aisyah dengan berkucurnya keringat dari dahi, leher dan sekujur tubuh beliau. Rasulullah pun bersabda pada Aisyah, “Hai Aisyah, sesungguhnya ruh orang mukmin itu keluar dengan keringat dan ruh orang kafir keluar dari kedua rahangnya seperti nyawa keledai,” dan detik-detik kematian, beliau bersabda, “Kerjakanlah shalat, kerjakanlah shalat!” (HR. Thabrani)

Rasulullah—sebagaimana kita tahu telah terjamin masuk surga—hingga pada puncak sakaratul mautnya, apakah Allah mengundurkan waktu barang sejenak untuk tidak memerintahkan Izrail mencabut nyawanya? Apakah Rasulullah tidak merasakan sakit sama sekali?

Tidak. Sebagai manusia biasa, Rasulullah merasakan sakitnya saat ruh keluar dari tiap-tiap urat syarafnya—di luar konteks derajat kenabian.

Mengutip dari Imam Ghazali, dalam “Dzikrul Maut Wa Maa Ba’dahu”, beliau melukiskan betapa Rasulullah merasakan kepedihan yang sangat, bahkan tampak rintihan dari beliau hingga warna kulit beliau berubah. Dahi beliau juga berkeringat, hingga tarikan dan embusan nafasnya mengguncangkan tulang rusuk kanan dan kiri beliau sehingga orang-orang yang menyaksikan beliau menangis—berjuang menahan rasa sakit.

Dahsyatnya sakaratul maut pun membuat beliau terus berdoa tiada henti, “Ya Allah, ringankanlah atasku sakaratul maut,” adapun doa yang lain dalam riwayat Ibn Abd Dunya, “Ya Allah, sungguh Engkau mengambil ruh di antara urat-urat dan anak-anak jari. Ya Allah, tolonglah aku atas kematian dan ringankanlah.”

Esensi dari dua doa tersebut ialah bahwa Rasulullah lebih mengetahui pedih dan sakitnya sakaratul maut yang dideskripsikan bahwa kematian itu sama dengan tiga ratus kali tebasan dengan pedang.

Jika Rasulullah Saw saja meminta rukhsah pada Allah, lalu, bagaimana dengan kita? Adakah persiapan maksimal untuk menuju ke alam keabadian? Kembali Imam Ghazali menuturkan bahwa mengingat kematian dapat mengikis nafsu-nafsu duniawi yang penuh tipu daya ini.

Sebaliknya, tamak kepada dunia dan mengambilnya berlebihan, dapat melemahkan iman, menyisihkan zikir dari lisan, meruntuhkan baiknya perbuatan, hingga lalai terhadap kematian. Na’udzubillah. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang memiliki cukup perbekalan sehingga rindu akan kematian.